Program Harvest International Curriculum

Trimester 1

Survey Perjanjian Baru Sesi 7 dari 10


Topik Sesi 7: Kitab Efesus, Filipi, Kolose, dan Filemon: Surat-Surat Paulus dari Penjara.

Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.


Efesus 2 : 14-16 “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”


Filipi 2 : 5-8 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”


Kolose 1 : 19 “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.”



Bagian 2: Topik kuliah.


Pendahuluan.

Kita akan mempelajari 4 surat yang ditulis oleh Paulus dari dalam penjara:

1. Surat kepada jemaat di Efesus.

2. Surat kepada jemaat di Filipi, Yunani.

3. Surat kepada jemaat di Kolose, Turki.

4. Surat kepada Filemon, yang juga ditujukan kepada jemaat di Turki.

Dari ke-empat surat-surat ini, hanya surat kepada Filemon yang ditujukan secara pribadi. Surat-surat yang lainnya ditulis untu ditujukan kepada jemaat.


Injil anugerah adalah kabar baik buat mereka yang menyadari bahwa mereka telah berdosa dan membutuhkan Yesus sebagai Juru Selamat. Namun seringkali manusia menciptakan pemahaman sendiri yang dibangung di atas kesombongan diri, dan inilah musuh terbesar dari Injil anugerah. Manusia sulit untuk mengakui bahwa mereka adalah orang berdosa. Manusia sulit untuk merendahkan diri, dan sulit untuk mengakui bahwa mereka tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka menjadi orang yang angkuh dengan menolak anugerah cuma-cuma dari Allah dengan berpendapat bahwa jalan mereka lebih baik dari pada jalan Allah.


Orang-orang yang selalu menolak Paulus dan Injil yang diberitakannya adalah orang-orang yang selalu membenarkan diri. Mereka dikenal sebagai Yudaiser, karena mereka berasal dari Yerusalem dan Yudea. Mereka inilah yang akhirnya berhasil menangkap dan memenjarakan Paulus di akhir perjalanan misinya yang ketiga. Mereka menuduh Paulus membuat keributan sehingga Paulus dipenjara. Meskipun semua tuduhannya palsu, mereka berhasil mencapai tujuan mereka sehingga Paulus dipenjarakan selama 2 tahun sambil menanti waktu untuk diadili. Ancaman dari penuduh-penuduhnya sangat membahayakan sehingga Paulus harus dibawa keluar dari penjara Yerusalem dan dipindahkan ke Kaisarea di pinggir pantai. Paulus menolak ketika ia hendak diadili kembali dan dibawa ke Yerusalem, karena ia tahu mereka akan membunuhnya di sana. Sebab itu Paulus berkeras untuk naik banding di hadapan Kaisar Roma. Paulus bisa melakukan hal tersebut karena ia adalah seorang warga negara Roma. Dan dalam perjalanan ke Roma, Paulus hampir saja kehilangan nyawanya saat kapalnya kandas. Tapi seorang malaikat Allah menyatakan kepada Paulus bahwa semua akan selamat, dan Paulus harus bersaksi di Roma. Dalam kisah kapal yang karam ini, semua 276 orang di dalam kapal selamat karena ada 1 orang beriman di kapal itu, yaitu Paulus. Saat tiba di Roma, Paulus harus menunggu 2 tahun lagi untuk diadili. Jadi secara keseluruhan Paulus menunggu 4 tahun untuk diadili. Dalam 2 tahun terakhir Paulus di Roma itulah Paulus menulis ke-empat surat ini.


1. Kitab Efesus

Efesus terletak di ujung Barat dari negara Turki. Paulus lebih banyak menghabiskan waktunya di kota ini dibandingkan dengan kota-kota yang lain, yaitu selama 3 tahun. Dan selama 3 tahun itu Injil menyebar dari wilayah tersebut. Efesus adalah jemaat pertama dari seluruh propinsi, dan Paulus menulis dengan tujuan agar suratnya tidak hanya dibaca oleh jemaat Efesus saja, namun juga oleh seluruh jemaat-jemaat lainnya yang ada di propinsi itu. Berikut adalah hal-hal penting yang dijelaskan dalam Surat Efesus:


1.A. Dalam Kristus semua orang percaya telah diberkati dengan setiap berkat rohani dalam persatuan. Efesus 1 : 3 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Paulus menjelaskan bahwa salah satu anugerah yang kita miliki dalam Kristus adalah kita telah didekatkan kepada Bapa. Ini bisa kita dapati lebih lanjut dalam Efesus 2 : 13, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.” Ayat ini berbicara mengenai orang orang non-Yahudi yang telah percaya. Mereka jauh dari janji dan berkat, tapi sekarang mereka bersama-sama dengan orang Yahudi dibawa mendekat kepada Kristus.Efesus 2 : 14-16 “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.” Ayat ini menjelaskan bahwa di dalam Kristus, kita adalah satu. Kita tetap berbeda suku bangsa, tetapi kesatuan di dalam Kristus melampaui segala perbedaan.

1.B. Gereja adalah pernyataan kesatuan terbesar. Ini menjadi cikal bakal persatuan abadi saat segalanya nanti dipersatukan di bawah Kristus. Efesus 4 : 3 “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Disini Paulus menjelaskan kita harus memelihara kesatuan Roh ini dengan 7 cara, seperti tertulis di Efesus 4 : 4-6 yaitu, “satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Mengapa memelihara kesatuan itu begitu penting? Karena Allah punya rencana yang besar sepanjang jaman ini. Efesus 1 : 9-10 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” Jadi di dalam Kristus Allah berkehendak menyatukan segala sesuatu yang ada di bumi dan di surga. Dan tempat pertama di mana hal ini terjadi adalah di dalam gereja Tuhan. Gereja Tuhan adalah satu gambaran awal dari apa yang akan terjadi di masa depan. Efesus 3 : 10-11 berkata: supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Ini adalah suatu kenyataan surgawi yang harus dinyatakan di bumi ini, bahwa kita semua satu di dalam Kristus.

1.C. Orang percaya harus hidup dalam kesucian, kasih, dan pelayanan yang mencerminkan kesatuan baik di gereja maupun di rumah. Paulus mengajarkan hal-hal praktis yang harus dilakukan dalam rumah tangga kita. Efesus 5 : 21-25 berkata: “dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Ini adalah bagaimana menghidupi Injil dalam rumah tangga kita sendiri. Anak-anak harus menundukkan diri kepada orang tua dengan mantaati mereka. Para hamba-hamba dan tuan-tuan juga harus menundukkan diri dengan mengasihi satu sama lain sebagai saudara di dalam Kristus. Injil ini memberikan tuntunan praktis dalam membangun hubungan yang paling dasar pada sesama orang percaya.

1.D. Orang percaya harus kenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Paulus mengajar tentang peperangan rohani, di mana tempat serangan terbesar dari si musuh ditujukan pada rumah tangga, yaitu antara suami dan istri, anak-anak dan orang tua. Di Efesus 6 : 13-18 Paulus mengajar agar mereka mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah, yang adalah: 1) ikat pinggang kebenaran, 2) baju zirah keadilan, 3) kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, 4) perisai iman, 5) ketopong keselamatan, 6) pedang Roh, dan 7) berdoa di dalam Roh. Rumah tangga adalah daerah pertama di mana kita harus melakukan peperangan rohani. Bila iblis bisa menghancurkan rumah tangga kita maka yang lainnya akan mudah hancur. Selain berdoa dan mempergunakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk keluarga kita, kita juga harus melakukan hal yang sama bagi seluruh orang kudus (Efesus 6 : 18).


2. Kitab Filipi.

Filipi adalah kota pertama di Benua Eropa di mana Paulus memberitakan Injil. Paulus baru saja tiba dari Troas di Pantai Barat Turki dan ia mendapatkan suatu penglihatan. Dalam penglihatan ini, Paulus melihat seseorang dari Makedonia meminta tolong Paulus untuk datang ke Macedonia. Lalu Paulus bersama Silas dan Lukas pergi ke Eropa, tepatnya ke Makedonia. Kisah Para Rasul 16 mengisahkan awal Injil masuk ke Benua Eropa yang dimulai dari pertobatan 2 keluarga, yaitu keluarga Lidia yang adalah seorang wanita pengusaha, dan pertobatan keluarga kepala penjara.

Di Makedonia, Paulus memberitakan Injil dan membangun jemaat. Jemaat Filipi dengan setia membantu Paulus dengan pemberian dan persembahan ketika kemudian Paulus berada di penjara di Roma. Mereka juga mengirimkan seseorang bernama Epafroditus untuk membantu Paulus dalam memenuhi kebutuhannya di penjara. Tapi Epafroditus mengalami sakit keras dan hampir mati saat merawat Paulus. Namun Tuhan menyelamatkan hidupnya. Setelah itu Paulus mengutus Epafroditus kembali ke Filipi berikut dengan surat ditujukan kepada orang-orang di Filipi. Dalam surat tersebut, Paulus menuliskan ucapan terima kasih atas persembahan yang mereka kirimkan kepadanya dan Paulus menuliskan beberapa hal sebagai berikut:


2.A. Nasihat untuk bersuka cita. Ada 14 kali kata “sukacita” yang dituliskan Paulus dalam suratnya yang pendek ini. Dalam Flipi 4 : 4 dikatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Maksudnya disini bukan supaya kita bersuka cita di dalam keadaan kita, tetapi kita bersuka cita di dalam Tuhan karena sukacita dalam Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Pesan surat Filipi mengingatkan bahwa Tuhan selalu menyertai kita, sehingga kita tidak perlu takut dan putus asa. Tuhan tidak akan membiarkan dan melepaskan kita sendirian. Inilah alasannya kita harus terus bersukacitalah. Bila Paulus bisa bersuka cita saat di penjara di Roma, tentu kita bisa juga melakukannya dalam segala situasi dan di manapun kita berada.

2.B. Paulus memberi semangat kepada jemaat Filipi untuk tetap kuat dalam satu pikiran dan Roh untuk menghadapi pertentangan seperti yang pernah dialaminya. Paulus mengingatkan agar jemaat Filipi terus menjaga persatuan seperti dikatakan dalam Filipi 2 : 3-4 “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Kemudian Paulus memberikan kunci dari persatuan itu, yaitu Filipi 2 : 5-8 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Persatuan kita menjadi sempurna bila kita sehati sepikir dengan Tuhan Yesus yang merendahkan diriNya sampai mati di kayu salib.

2.C. Kerendahan hati Kristus adalah panutan kita. Hanya dalam kerendahan hati kita bisa mengenal Dia dalam kuasa kebangkitan-Nya. Dalam kerendahan hati juga kita juga bersekutu dengan Yesus dalam penderitaan-Nya. Filipi 2 : 9-10 “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Dengan demikian Yesus adalah teladan kita dimana kerendahan hatiNya menjadi kerendahan hati kita. Filipi 3 : 8 memberikan ilustrasi mengenai Paulus sendiri, dimana ia berkata: “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Filipi 3 : 10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Paulus lebih memilih kehilangan segalanya demi mendapatkan Kristus. Paulus adalah contoh hidup dari bagaimana cara mengenakan pikiran Kristus. Begitu juga dengan kita, kita harus bisa mencontoh Paulus. Rendahkanlah diri kita dan Tuhan akan meninggikan kita pada waktuNya.

2.D. Jangan kuatir, tetapi berdoalah dengan ucapan syukur dan damai Tuhan akan besertamu. Filipi 4 : 6-7 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Paulus mengajar untuk mengubah kekuatiran-kekuatiran itu menjadi permohonan kepada Tuhan, supaya damai sejahtera Allah akan menguasai hati dan pikiran kita.


3. Kitab Kolose.

Paulus belum pernah mengunjungi jemaat di Kolose yang berjarak 100 mil sebelah Timur Efesus. Tetapi Paulus mengenal seorang warga Kolose yang bernama Epafras, seorang yang bertobat saat Paulus menginjil di Efesus. Epafras kemudian kembali ke Kolose dan mendirikan jemaat di Kolose. Kemudian Epafras datang menemui Paulus di Roma dan menceritakan mengenai keadaan jemaat di Kolose.


Persoalan jemaat di Kolose adalah mereka memadukan Injil dengan filosofi Yunani dan unsur-unsur agama misteri Yunani. Kepercayaan seperti ini disebut dengan istilah sinkretisme, yaitu upaya untuk memadukan beberapa agama, kultur, dan kepercayaan menjadi satu agama. Dalam hal ini bahaya sinkretisme dalam iman Kristen adalah upaya untuk memadukan kekristenan dengan kepercayaan lain yang mengubah kebenaran Injil. Salah satu contohnya adalah memadukan filosofi berpikir positif dengan iman Kristen. Berikut adalah hal-hal penting yang dituliskan Paulus dalam Surat Kolose:


3.A. Kepenuhan Allah ada di dalam Kristus. Dalam Kolose 1, Paulus menuliskan dengan jelas siapa Yesus sebenarnya. Kolose 1 : 19 “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.” Bila segala kepenuhan Allah tinggal di dalam Yesus maka tidak ada lagi yang kita butuhkan selain Yesus. Kolose 2 : 9-10 “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” Jadi Itulah yang kita terima apabila kita hidup di dalam Kristus. Karena seluruh kepenuhan Allah ada di dalam Yesus, maka firman Tuhan tidak boleh ditambah atau dipadukan dengan legalisme Yahudi, filosofi Yunani, agama lain, kepercayaan lain, atau pemikiran lain. Yesus itu cukup bagi kita.

3.B. Kehidupan baru di dalam Kristus mengusir Kehidupan yang Lama. Dalam Kolose 3 Paulus menjabarkan kehidupan bersama Kristus secara praktis. Di dalam Kristus kita mati terhadap cara hidup yang lama. Kolose 3 : 8-12 “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”



4. Kitab Filemon.

Filemon adalah seseorang yang tinggal dekat Kolose. Dia telah menerima iman Kristus oleh penginjilan Rasul Paulus. Ia memiliki budak yang bernama Onesimus. Nama Onesimus itu artinya berguna. Tapi ternyata Onesimus tidak begitu berguna, karena dia mencuri dari tuannya dan melarikan diri ke Roma. Di Roma, dia bertemu dengan Paulus dan menerima keselamatan. Budak yang tidak berguna ini menjadi berguna bagi Paulus. Dan Paulus tahu bahwa suatu hari Onesimus harus kembali kepada tuannya, yaitu Filemon. Jadi ini adalah surat yang ditujukan Paulus kepada Filemon supaya menerima Onesimus kembali.


Paulus menggunakan pendekatan secara persuasif dan bersahabat supaya Filemon mau menerima Onesimus kembali. Dalam Filemon 10-12 dikatakan bahwa Paulus “mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu--dia, yaitu buah hatiku.” Paulus lalu melanjutkan di ayat 17 “Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.” Surat ini menasihatkan Filemon untuk menerima kembali budaknya sebagai saudara di dalam Kristus. Inilah kuasa Injil yang mengakhiri perdagangan budak di seluruh kekaisaran Romawi. Di dalam Kristus kita sungguh-sungguh adalah ciptaaan yang baru, yang lama sudah berlalu yang baru sudah datang. Kuncinya adalah hati yang mau diubahkan.



Diskusi Kelompok :

1. Mengapa Paulus menghubungkan pelayanan dan kesejahteraan rohani orang percaya dimulai dari rumah tangga seperti yang tertulis pada Efesus 5 : 20 sampai Efesus 6 : 4?

2. Mengapa orang percaya harus bersukacita dalam setiap keadaan?

3. Apakah implikasi dari hidup baru di dalam Kristus bagi orang percaya menurut Kolose 3 : 1-4?