Program Harvest International Curriculum


Trimester 1


Survey Perjanjian Baru Sesi 1 dari 10





Topik sesi 1 : Pendahuluan Perjanjian Baru



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan:


2 Timotius 3 : 16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”


Ulangan 29 : 10-13 “Kamu sekalian pada hari ini berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu: para kepala sukumu, para tua-tuamu dan para pengatur pasukanmu, semua laki-laki Israel, anak-anakmu, perempuan-perempuanmu dan orang-orang asing dalam perkemahanmu, bahkan tukang-tukang belah kayu dan tukang-tukang timba air di antaramu, untuk masuk ke dalam perjanjian TUHAN, Allahmu, yakni sumpah janji-Nya, yang diikat TUHAN, Allahmu, dengan engkau pada hari ini, supaya Ia mengangkat engkau sebagai umat-Nya pada hari ini dan supaya Ia menjadi Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya kepadamu dan seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub.”


Yeremia 31 : 31-33 “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”


Bagian 2: Topik Kuliah:

Pendahuluan:

Allah menyatakan diri-Nya sama seperti kita manusia menyatakan diri kita, yaitu dengan berbicara dan bertindak. Dalam Alkitab kita bisa baca tentang siapa diri Allah itu melalui firman dan perbuatan-Nya, yaitu hal-hal yang diucapkan Allah dan hal-hal yang diperbuat olehNya. Dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab inilah kita bisa mengenal siapa Allah itu. Sebagai contoh, kita bisa mengenal kekuasaan dan kedaulatan Allah melalui apa yang tertulis saat Allah menciptakan. Kita juga bisa mengenal kasih-Nya melalui tulisan tentang perjanjian dan perintah-Nya. Kita akan membahas hal ini dari Perjanjian Baru yang memusatkan perhatiannya pada Yesus Kristus, anak Allah.

1. Keberadaan Alkitab. Alkitab adalah buku yang unik, dan tidak ada buku lain yang serupa dengannya, karena

1.A. Alkitab ini adalah firman Allah yang datang dari Allah itu sendiri. Ini artinya Allah-lah adalah satu-satunya sumber dari semua hal yang tertulis di Alkitab.

1.B. Alkitab diungkapkan lewat perantaraan manusia dan bahasa manusia yang bisa dimengerti oleh manusia. Meskipun Alkitab bersumber dari Allah, tetapi Alkitab diturunkan lewat perantaraan manusia yang hidup dalam kurun waktu sejarah yang berbeda. Hal yang mengagumkan tentang metode penulisan Alkitab adalah bagaimana Allah mempercayakan manusia yang diilhami oleh Roh Kudus untuk menulis firmanNya dengan benar. Berarti Alkitab itu adalah kitab Ilahi yang pada waktu yang bersamaan juga adalah kitab yang sangat manusiawi.

2. Maksud dan Tujuan Alkitab Ditulis.


2.A. Alkitab ditulis untuk mendatangkan keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis kepada Timotius sebagai berikut di 2 Timotius 3 : 14-15 “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” Saat ayat ini ditulis, Perjanjian Baru belum seutuhnya ditulis, sehingga yang dimaksud oleh Paulus tentang Kitab Suci di sini masih mengacu pada Kitab Perjanjian Lama. Berarti bila Kitab Perjanjian Lama saja sudah dapat mengarahkan pembacanya kepada iman keselamatan oleh Yesus Kristus, maka terlebih lagi Kitab Perjanjian Baru dimana Yesus sendiri adalah fokus utamanya.

2.B. Alkitab ditulis untuk memperlengkapi setiap orang percaya untuk segala perbuatan baik. Di 2 Timotius 3 : 16-17 dikatakan : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Ayat ini menjelaskan bahwa Alkitab memperlengkapi kita dengan cara:

1. Mengajar, yaitu mengajar kita apa sebenarnya kebenaran itu. 2. Menyatakan kesalahan, yaitu menegur kita bilamana kita melakukan kesalahan. 3. Memperbaiki kelakuan, yaitu meluruskan kesalahan supaya kita kembali kepada yang benar.

4. Mendidik dalam kebenaran, yaitu membangun hubungan yang benar dengan Allah seperti bagaimana kita seharusnya mengasihi Allah dan sesama manusia.


3. Landasan Perjanjian Baru.

Kata “Perjanjian” dalam istilah “Perjanjian Baru” adalah Perjanjian antara Allah dan manusia. Alkitab berisikan 2 jenis perjanjian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama adalah dasar dari keberadaan Perjanjian Baru.


3.A. Perjanjian Allah yang kekal. Ada 3 janji utama yang Allah berikan kepada umat manusia:

3.A.1. Allah berjanji akan menjadi Tuhan bagi kita. Di Perjanjian Lama, Allah mengikat diri-Nya dengan Abraham dan semua keturunan Abraham, bahwa Allah pencipta langit dan bumi bersedia menjadi Allah mereka sebagai Pemimpin yang Agung. Hal ini diutarakan kepada Abraham di Kejadian 17 : 7 “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.”

3.A.2. Allah berjanji kita akan menjadi umat Allah. Pada jaman Perjanjian Lama, manusia memiliki banyak sekali dewa-dewa yang mereka sembah. Dewa-dewa ini sesungguhnya tidak memiliki hubungan dengan para penyembahnya. Tetapi Allah membuka hubungan istimewa antara Dia dengan bangsa Israel. Allah tidak puas hanya menjadi Allah yang jauh dan terpisah, Ia adalah Bapa yang ingin memiliki hubungan dengan ciptaan-Nya. Oleh sebab itulah Allah memberikan diri-Nya masuk kedalam perjanjian dengan bangsa Israel seperti yang tertera di Ulangan 29 : 10-13 “Kamu sekalian pada hari ini berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu: para kepala sukumu, para tua-tuamu dan para pengatur pasukanmu, semua laki-laki Israel, anak-anakmu, perempuan-perempuanmu dan orang-orang asing dalam perkemahanmu, bahkan tukang-tukang belah kayu dan tukang-tukang timba air di antaramu, untuk masuk ke dalam perjanjian TUHAN, Allahmu, yakni sumpah janji-Nya, yang diikat TUHAN, Allahmu, dengan engkau pada hari ini, supaya Ia mengangkat engkau sebagai umat-Nya pada hari ini dan supaya Ia menjadi Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya kepadamu dan seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub.”

3.A.3. Allah berjanji Ia akan berdiam diantara kita. Allah bukan saja membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir, tetapi terlebih penting lagi Allah sekarang menyertai bangsa Israel dengan cara Ia berdiam ditengah mereka. Hal ini dibuktikan dengan perjumpaan orang Israel dengan Allah di Gunung Sinai. Keluaran 29 : 45-46 “Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Maka mereka akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka.” Kehadiran Allah diantara kita memungkinkan kita untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita. Tetapi sesudah itu Allah juga mau agar kita mengasihi sesama kita. Dengan demikian kehadiran Allah membuat kita juga bisa menjalin persaudaraan yang rukun sesama orang percaya dengan Allah sebagai pusatnya. Ketiga perjanjian Allah ini membedakan Allah dengan para dewa-dewa atau ilah-ilah lainnya yang disembah orang-orang di sekitar bangsa Israel pada era Perjanjian Lama. Allah kita bukanlah Allah yang hanya mau disembah saja, tetapi Allah yang rindu untuk menjalin hubungan dengan ciptaan-Nya.


3.B. Pemberontakan manusia.

3.B.1. Perjanjian dari Allah dilanggar manusia. Manusia cenderung tidak mau mentaati perintah Allah. Dimulai dengan Adam dan Hawa yang melanggar perintah Allah dengan memakan buah terlarang, maka manusia sesudah itu terus memiliki kecenderungan yang sama, bahkan mereka semakin jahat. Oleh sebab maka Allah mendatangkan banjir besar dan hanya Nuh dan keluarganya yang diselamatkan. Tetapi kemudian, bangsa-bangsa keturunan Nuh juga menolak untuk menyembah Allah. Lalu Allah menetapkan Israel sebagai bangsa yang terpilih untuk mendatangkan keselamatan bagi umat manusia. Tetapi Israel pun juga memberontak. Bangsa Israel memilih untuk melanggar perintah Allah. Bahkan perintah terutama dimana mereka tidak boleh memiliki Allah yang lain juga dilanggar mereka. Mengapa manusia memiliki kecenderungan ini? Jawabannya adalah karena manusia itu telah jatuh dalam dosa. Inilah alasannya mengapa Allah mau manusia mengenal dan bersekutu kembali denganNya. Dosa itu sifatnya menghancurkan, tetapi kasih Allah mendatangkan pembaharuan dan pemulihan pada umat manusia.

3.B.2. Perjanjian Lama diperbaharui oleh Perjanjian Baru. Allah lalu berjanji dari keturunan bangsa Israel akan datang seorang Hamba yang akan menyelamatkan. Dengan demikian, seluruh Perjanjian Lama itu sesungguhnya adalah pernyataan yang berujung pada janji kedatangan seorang Penyelamat. Ia adalah seorang Juru Selamat yang sungguh-sungguh mau melakukan kehendak Allah. Yeremia 31 : 31-33 “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Dalam perjanjian yang baru ini ada suatu perubahan. Di Perjanjian Lama peraturan dan perintah Tuhan itu adanya berada di luar kita, menginstruksikan apa yang harus kita lakukan. Dan kita mematuhinya karena kita memang harus melakukannya. Tetapi di Perjanjian Baru peraturan dan perintah Allah sekarang ini diletakkan di dalam hati dan pikiran kita, sehingga hati kita sendiri yang tergugah untuk mematuhi perintah Tuhan.


4. Latar Belakang Perjanjian Baru.


4.A. Hubungan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Firman Tuhan Perjanjian Lama yang ditulis dengan bahasa Ibrani adalah dasar dari Perjanjian Baru yang kita miliki sekarang. Selama Perjanjian Lama bangsa Israel biasanya selalu memiliki Nabi-Nabi Tuhan yang berbicara dan menuntun mereka. Tetapi pada penghujung masa Perjanjian Lama, setelah Nabi Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, bangsa Israel tidak lagi memiliki Nabi dan tuntunan Allah sama sekali. Peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru ini ada jeda waktu sekitar 400 tahun. Periode ini dikenal sebagai masa sunyi di mana bukan saja Allah tidak berbicara, tetapi sepertinya Allah juga tidak melakukan tindakan apa-apa sama sekali. Amos 8 : 11-12 "Sesungguhnya, waktu akan datang," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN. Mereka akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya. Hosea 3 : 4-5 “Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim. Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.”

4.B. Perjanjian Lama sudah menubuatkan Mesias akan lahir dalam “penggenapan waktu.” Karena Allah lama tidak berbicara dalam masa sunyi itu, maka bangsa Israel mencari kembali dan mempelajari perkataan Allah yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Setelah mereka meneliti ulang Perjanjian Lama mereka lalu mendapati bahwa ada nubuatan tentang kedatangan seorang Mesias. Hal ini diteguhkan di Galatia 4 : 4 yang berkata “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Ayat ini berkata tentang bagaimana Yesus datang pada waktu yang tepat.

4.B.1. Yesus datang pada waktu yang tepat secara religius. Yesus datang sesuai dengan kebutuhan keadaan rohani bangsa Israel pada saat itu. Pada saat pra-kedatangan Yesus, mematuhi hukum taurat sangatlah berat, karena ada total 614 perintah yang ditulis oleh Musa di kitab Taurat. Orang Israel mengalami kemerosotan rohani dan banyak yang menyerah dalam memelihara hukum Taurat. Yesus datang membawa kabar baik tentang kasih karunia, melepaskan tekanan religius yang selama ini menghimpit. Kabar baik ini kemudian disebarkan dan dapat menyentuh hati semua orang yang mendengarkannya.

4.B.2. Yesus datang pada waktu yang tepat secara perkembangan budaya. Pada masa kedatangan Yesus umumnya semua orang fasih berbahasa Yunani, yang mempermudah proses komunikasi dan penyebaran firman Tuhan. Saat itu orang Romawi juga sudah membangun infrastuktur jalanan yang cukup baik, dimana jalan-jalan ini kemudian membuka akses perjalanan yang memudahkan penginjilan kemana-mana.

4.B.3. Yesus datang pada waktu yang tepat secara politik. Pada masa kedatangan Yesus, dunia sedang mengalami kedamaian untuk sementara waktu. Saat itu ada periode damai yang terbentuk oleh kekuasaan kerajaan Romawi. Kekuasaan Romawi juga telah melegalkan agama Yahudi sebagai agama yang diperbolehkan untuk dianut. Kekristenan pada saat itu juga diperbolehkan, karena kekristenan dianggap sebagai suatu sekte dari agama Yahudi. Berarti iman Kristen ada dalam proteksi peraturan Romawi. Perlindungan hukum ini memberikan ruang gerak bagi gereja mula-mula untuk bertumbuh dan berkembang.


5. Daftar Kitab-Kitab dalam Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru itu terdiri dari 27 kitab yang bisa dikelompokkan sebagai berikut:

5.A. Kitab-kitab sejarah yang terdiri dari: Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang berisikan inti dari Perjanjian Baru. Juga ada Kisah Para Rasul yang berisikan kisah sejarah gereja mula-mula.

5.B. Kitab-kitab pengajaran: Kitab-kitab pengajaran terdiri dari 21 surat-surat yang ditulis kepada orang-orang percaya. Kitab-kitab ini mengilustrasikan ajaran Perjanjian Baru.

5.C. Kitab nubuat: Kitab Wahyu, yaitu kitab yang berisikan penggenapan Perjanjian Baru.



Bagian 3: Diskusi kelompok:

1. Jelaskan kembali bagaimana prosesnya firman Allah itu datang kepada manusia melalui bahasa manusia?

2. Bagaimana Allah mempersiapkan dan merampungkan Perjanjian Lama sebelum Ia mendatangkan Perjanjian Baru? Jelaskan.