Program Harvest International Curriculum


Trimester 5


Pemuridan Sesi 3 dari 5


Topik Sesi 3: Murid Harus Menaati dan Melakukan Firman


Bagian 1: Daftar Ayat Renungan


Matius 7 : 26-27 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."


Markus 9 : 38-40 “Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Lukas 9 : 54-55 “Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" 55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.”



Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Setiap murid dari Yesus Kristus haruslah seorang pelaku firman dan bukan hanya pendengar firman.


1. Mengajar dengan Otoritas

Ada banyak kesalah-pahmaan tentang konsep mengajar dengan otoritas. Mengajar dengan otoritas tidak ditentukan oleh urapan, persiapan mengajar, atau cara seseorang memberi panutan saat mengajar. Mengajar dengan otoritas adalah cara mengajar yang mampu mengajak para pendengarnya untuk melakukan apa yang ajarkannya.


1.A. Murid harus menjadi pelaku firman. Seorang murid yang mau belajar piano tidak bisa belajar hanya dengan mendengar cara sang guru memainkan piano. Tetapi saat belajar piano sang guru akan mendudukkan si murid di kursi piano, dan melatih murid tersebut untuk menekan tuts piano sehingga mulai memainkan melodi yang diajarkan. Dengan cara yang sama jika seorang murid Kristus hanya mendengarkan khotbah saja, maka si murid tidak akan dapat belajar dan mengalami pertumbuhan. Si murid harus turut dilatih bagaimana cara melakukan apa yang dikhotbahkan, supaya ia mengalami pertumbuhan dan mulai melatih ketaatan firman. Tanpa menjadi pelaku firman maka seorang murid akan terus menjadi seorang kanak-kanak saja.

1.B. Kelemahan sistem pengajaran di gereja. Banyak gereja salah mempraktekkan metode pengajaran. Para pendeta belajar di sekolah-sekolah teologi untuk bisa mempersiapkan materi khotbah dan membawa khotbahnya di atas mimbar. Lalu gereja-gereja mempersiapkan peralatan seperti mimbar, microfon, sistem suara, serta tempat duduk yang nyaman agar jemaat datang untuk mendengar tanpa mendesak jemaat untuk menindak lanjuti apa yang diajarkan. Ini adalah sistem pengajaran gereja yang salah dan perlu diubah.

1.C. Perbandingan sistem pengajaran di gereja dan di sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar hingga universitas memberlakukan sistem absensi dan memberikan pekerjaan rumah serta mengharuskan murid untuk membuat catatan dan mengikuti ujian. Tetapi mengapa saat kita belajar di gereja, kita tidak diabsen, tidak ada pekerjaan rumah, dan tentunya tidak harus mengikuti ujian juga? Padahal apa yang kita pelajari di gereja sangat vital bagi kita untuk menerima kehidupan yang kekal. Sistem pengajaran di gereja seperti ini bukanlah sistem mengajar dengan otoritas.


2. Yesus memperkenalkan sistem pengajaran dengan otoritas


2.A. Yesus mengajar dengan otoritas. Saat Yesus mengajar, Ia tidak sekedar memberikan pidato. Pengajaran Yesus selalu dipenuhi dengan berbagai perintah, seperti: “pergilah,” “jangan lakukan,” atau “lakukanlah ini atau itu.” Yesus mengajar murid-muridNya dengan memberikan perintah kepada mereka, sehingga para murid belajar dengan menaati perintah Yesus.

2.B. Pengajaran tanpa otoritas mudah dilupakan. Dalam suatu penelitian, didapati bahwa jemaat hanya memiliki kapasitas mengingat sekitar 20% saja dari khotbah yang mereka dengarkan. Bila mereka hanya mengingat 20% saja, maka 10 hari kemudian kemungkinan besar pesan khotbah itu sudah tidak ada dalam ingatannya. Tetapi hasil ini akan sangat berbeda bila pengajaran itu terintergrasi dalam kehidupan sehari-hari dari si pendengar.

2.C. Pengajaran yang terintegrasi dalam kehidupan. Mengapa kita masih bisa membaca dan menulis, meskipun kita mempelajarinya dulu sekali saat kita masih di bangku TK atau SD? Karena setelah kita belajar membaca dan menulis kita terus mengintegrasikan pelajaran tersebut ke dalam keseharian kita. Demikan juga saat kita pertama kali belajar matematika untuk rumus penjumlahan dan pengurangan, hingga sekarang kita masih mengingatnya karena pelajaran ini selalu terintegrasi saat kita membayar sesuatu dan menghitung uang kembaliannya.

2.D. Perumpamaan membangun di atas pasir. Matius 7 : 26-27 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." Mendengar tanpa menjadi pelaku firman diibaratkan oleh Yesus seperti membangun di atas pasir. Pengajaran firman Tuhan itu sifatnya berjenjang, di mana seorang murid harus memulai pelajarannya dari tingkat dasar, dan lalu naik ke tingkat selanjutnya. Setiap murid harus mempraktekkan dulu pelajarannya yang di tingkat dasar, sebelum ia bisa diberikan pelajaran untuk tingkat selanjutnya. Bila si murid atidak pernah mau mempraktekkan pengajaran yang diterima, maka murid tersebut sama seperti membangun di atas pasir.

3. Cara Yesus Mengajar


3.A. Yesus mengajar di depan orang banyak secara terbatas. Sesungguhnya dalam pelayananNya Yesus tidak banyak mengajar atau berkhotbah di depan orang-orang banyak. Yesus memahami bahwa memberikan nasihat di depan orang banyak tidak terlalu efektif. Yesus banyak memberikan pengajaran melalui perumpamaan-perumpamaan yang harusnya bisa dipahami. Tetapi seringkali sesudahnya mereka bertanya kembali tentang maksud dari perumpamaan itu. Demikian murid-muridNya seringkali mempertanyakan arti dari pengajaran Yesus. Oleh sebab itulah Yesus lebih memusatkan pengajarannya kepada kedua belas rasulNya.

3.B. Yesus mengajar rasulNya dengan memberikan tugas. Yesus tidak mengajar kepada para muridNya dengan berkhotbah atau melakukan kajian Alkitab secara mendalam. Tetapi Yesus mengajar kepada mereka dengan memberikan tugas-tugas yang konkrit. Sebagai contoh, Yesus mengirimkan kedua belas rasul di Matius 10 : 5-15 dan memberikan beberapa perintah: 1) Jangan pergi ke bangsa lain tetapi hanya ke umat Israel; 2) Beritakan Kerajaan Sorga sudah dekat; 3) Sembuhkan orang sakit, bangkitkan orang mati, tahirkan orang kusta, usir setan; 4) Lakukan dengan cuma-cuma; 5) Jangan membawa emas, perak, tembaga, dan bekal; 6) Saat masuk kota atau desa, cari dan tinggal di tempat seorang yang layak; 7) Beri salam; 8) Bila tidak diterima, tinggalkan rumah itu dan kebaskan debu dari kaki.

3.C. Yesus mengoreksi apa yang salah. Sekembalinya dari melaksanakan tugas dari Yesus, para rasul kembali kepada Dia di Lukas 10 : 17 “Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."” Tetapi Yesus segera mengoreksi para rasul di Lukas 10 : 20 “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Yesus juga mengkoreksi para rasul di Markus 9 : 38-40 “Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

3.D. Yesus menegur para rasul. Selain mengoreksi mereka, Yesus juga mengajar para rasul dengan menegur mereka saat Yesus sedang berjalan menuju desa Samaria yang menolakNya. Lukas 9 : 54-55 “Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" 55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.”


4. Kesaksian Pastor Juan Carlos

Para murid adalah mereka yang harus siap untuk menaati firman dan menjadi pelaku-pelaku firman yang setia. Dengan demikian para gembala harus memastikan agar jemaat pasti melakukan apa yang dikhotbahkan di gereja supaya mereka diubahkan menjadi murid-murid. Suatu waktu pastor Carlos sudah mempersiapkan khotbah di gereja yang dipimpinnya. Ia sudah mempersiapkan khotbah tentang kasih. Tetapi ketika ia mau naik ke mimbar, suara hatinya mempermasalahkan khotbah yang telah ia persiapkan, karena ia tahu jemaat belum tentu akan melakukan apa yang dikhotbahkannya. Sehingga pada saat ia naik ke mimbar, ia memutuskan untuk tidak berkhotbah. Ia hanya menyampaikan pesan satu kalimat yang berbunyi, “pesan Tuhan hari ini adalah: kasihilah seorang akan yang lain.” Setelah itu pastor Carlos duduk kembali. Saat itu ada 1000 jemaat yang hadir, dan semuanya menjadi bingung akan pesan ini. Keadaan menjadi canggung, dan pastor Carlos mengulangi tindakannya sekali lagi, dan lalu duduk kembali. Setelah beberapa lama, lalu para jemaat mulai berinteraksi satu dengan lainnya dan saling bertegur sapa. Para jemaat lalu mulai saling mendoakan, dan saling berbagi masalah dan bahkan membantu menyelesaikan masalah satu dengan lainnya. Pada akhirnya jemaat saling berpelukan dan ada yang berlutut dan berdoa. Pada hari itu seluruh kebutuhan jemaat terpenuhi, karena jemaat bersedia untuk melakukan apa yang dikhotbahkan.



Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Bagaimana anda bisa menjadi seorang hamba Tuhan yang mengajar dengan otoritas? Jelaskan.


2. Mengapa seorang murid bukan saja harus patuh, tetapi bersedia dikoreksi dan ditegur? Jelaskan.