Program Harvest International Curriculum


Trimester 5


Penatua yang Alkitabiah Sesi 3 dari 5


Topik Sesi 3: Kualifikasi Penatua


Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan

1 Timotius 3 : 1-7 “Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." 2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, 3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, 4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? 6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. 7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.”


Titus 1 : 5-9 “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.

7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.”


Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Pada sesi ini kita akan membahas kualifikasi-kualifikasi seseorang bila ia mau melayani sebagai seorang penatua di gereja lokalnya. Di 1 Petrus pasal 5, Rasul Petrus menyebut dirinya sebagai seorang penatua. Kemudia ia memberikan instruksi kepada mereka yang ingin menjadi penatua, bahwa mereka harus menjadi teladan utama bagi orang-orang percaya di sekitarnya. Ini adalah tanggung jawab terutama bagi setiap penatua dalam ia melayani di gereja. Oleh sebab itulah Tuhan memberikan beberapa prasyarat yang ketat bagi mereka yang masuk ke dalam kepenatuaan.


1. Kualifikasi Menurut Kitab 1 Timotius dan Titus

1 Timotius 3 : 1-7 “Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." 2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, 3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, 4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? 6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. 7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.”

Titus 1 : 5-9 “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.

7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.”

Berdasarkan 1 Timotius dan Titus, kita bisa buat suatu rangkuman tentang kualifikasi seorang penatua sebagai berikut:

1.A. Persyaratan mendasar. Seorang penatua tentu saja haruslah seorang yang telah menerima keselamatan, yang tekun dalam berdoa dan selalu merenungkan firman Tuhan.

1.B. Seorang yang mengejar ekselensi (keunggulan prestasi) dalam perilaku dan ketaatan. Ada hal-hal yang harus ia lakukan dalam standarnya Tuhan, sama dengan hal-hal yang ia tidak boleh lakukan sesuai dengan perintah Tuhan.

1.C. Persyaratan ketat. Ada kira-kira 28 persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang penatua dalam ayat-ayat di 1 Timotius dan Titus yang bisa dibagi dalam tiga kategori: karakternya, kondisi keluarganya, dan kemampuannya. Persyaratan-persyaratan ini tidak membahas bilamana si penatua memiliki karunia-karunia Roh, sebab menurut 1 Korintus pasal 12 sudah dimengerti bahwa setiap orang percaya, termasuk para penatua sudah mengerti dan sudah beroperasi dalam berbagai karunia-karunia Roh.

1.C.1. Persyaratan karakter penatua:

1. Seorang yang bersih dan tidak bernoda.

2. Seorang yang jujur dan berintegritas. Ia selalu mewakili karakter Yesus dan meneladani orang-orang di sekitarnya. Contohnya, bila ia adalah seorang pengusaha maka ia pun juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang jujur dan berintegritas. Dalam komunitas sekelilingnya ia memiliki reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya. Ia dihormati baik di dalam dan di luar gerejanya.

3. Seorang yang disegani. Alkitab mengajar orang percaya mematuhi kepada para pemimpinnya. Sangatlah sulit untuk orang-orang mematuhi seorang penatua yang tidak disegani.

4. Seorang yang tenang. Ia adalah seorang yang stabil dan tidak melakukan tindakan ekstrim.

5. Seorang yang disiplin. Ia disiplin datang ke gereja tepat waktu, disiplin dalam menghadiri rapat penatua, bila ada kebaktian lainnya ia senantiasa datang pada waktunya.

6. Seorang yang memiliki pengendalian diri. Ini bukan berarti Tuhan yang harus terus menerus mengendalikan dia, tetapi ini adalah pengendalian diri yang berasal dari kedewasaan rohani yang telah ia capai. Pengendalian diri ini juga berarti hidupnya tidak dikendalikan oleh orang lain.

7. Seorang yang jalannya lurus. Ini mencakup bagaimana ia berlaku kepada orang-orang lain di sekitarnya.

8. Seorang yang kudus. Ibrani 12 : 14b “tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Ini berarti ia haruslah seorang yang telah dipisahkan bagi pekerjaan Tuhan, bukan orang yang mengasihi dunia dan seisinya.

9. Seorang yang menyukai hal-hal yang baik. Ia menyukai aktifitas baik, pergaulan yang baik dengan kelompok orang-orang yang baik, dan tentu ia adalah orang yang mengasihi Tuhan.

10. Seorang yang ramah dan murah hati. Ia sangat suka memberi tumpangan.

11. Seorang yang lemah lembut. Lemah lembut memiliki keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan. Yesus adalah seorang yang lemah lembut, Ia selalu menyatakan kelembutan dalam menggembalakan, tetapi Ia juga dengan tegas menegur mereka yang munafik. Demikian juga seorang penatua yang lemah lembut memimpin dengan kelembutan dan juga dapat menegur tanpa membuat orang-orang sakit hati atas tegurannya.

12. Seorang yang tidak suka bertengkar. Sebaliknya ia harus dikenal sebagai seorang pencinta damai.

13. Seorang yang tidak cepat marah. Yakobus 1 : 19 “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

14. Seorang yang tidak suka kekerasan. Ia bukanlah seseorang yang melakukan kekerasan fisik.

15. Seorang yang tidak mencari laba yang tidak jujur. Ia tidak mencari uang dengan cara-cara yang curang. Ia juga memikul tanggung jawab keuangannya dengan benar, dan bila ia memiliki pekerja maka ia adil dalam membayarkan upah mereka.

16. Seorang yang bukan pencinta uang. Tidak ada masalah dengan uang, selama kita tidak mencintainya.

17. Seorang yang tidak sombong atau arogan. Ia tidak mendominasi orang lain dengan memaksakan kehendaknya sendiri.

18. Seorang yang bukan pemabuk. Ini artinya adalah seseorang yang tidak memberikan dirinya untuk dipengaruhi oleh alkohol atau unsur-unsur lainnya yang mempengaruhi tingkat kesadarannya.

1.C.2. Persyaratan kondisi keluarga penatua. Ada beberapa persyaratan kondisi keluarga bagi seorang penatua sebagai berikut:

1. Seorang yang hanya memiliki satu istri.

2. Seorang yang dapat memimpin dan mengatur keluarganya dengan baik. Bagi ia, keluarganya adalah jemaat Tuhan yang terutama yang harus dilayani. Ia juga dapat memberi nafkah dan mengelola keuangannya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dalam memimpin keluarga, ini bukan berarti si istri tidak memiliki andil atau suara.

3. Seorang yang dihormati dan dipatuhi oleh anak-anaknya. Anak-anak yang tidak mematuhi ayahnya bisa melakukan kenakalan yang meresahkan lingkungan sekitarnya. Ia juga harus memastikan agar anak-anaknya juga tumbuh dewasa menjadi orang percaya.

1.C.3. Persyaratan kemampuan penatua:

1. Seorang yang memegang teguh pesan firman Tuhan. Ia harus berteguh pada kebenaran akan firman Tuhan.

2. Seorang yang bisa mengajar. Ini bukan berarti harus berasal dari kelompok pengajar dari pelayanan lima jawatan. Mengajar bisa dilakukan dalam berbagai situasi. Ada orang-orang yang tidak mampu mengajar di depan orang banyak, tetapi ia bisa mengajar dalam kelompok kecil.

3. Seorang yang mampu menguatkan atau menegur orang lain dengan landasan doktrin yang benar. Dalam hal ini ia bukan saja mampu mengajar, tetapi juga membela kebenaran di hadapan mereka yang menentang firman Tuhan.

4. Bukan orang yang baru saja bertobat. Di Perjanjian Lama, seorang penatua itu haruslah mereka yang sudah berumur, karena umumnya mereka yang sudah berumur lebih memiliki kedewasaan rohani. Tetapi sesungguhnya kedewasaan iman belum tentu berhubungan dengan usia alami seseorang. Setiap orang memiliki tingkat pertumbuhan rohani yang berbeda. Pada intinya, seorang penatua haruslah mereka yang telah mencapai kedewasaan rohani yang baik.


2. Menegur Penatua


2.A. Menegur penatua yang berdosa secara pribadi. Matius 18 : 15 -16 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. 16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Bila seorang penatua berdosa, maka kita dapat berbicara terlebih dahulu secara pribadi kepada dia. Bila ia tidak mendengarkan, maka kita bisa mengajak satu atau dua orang lainnya untuk membantu berbicara kepadanya.

2.B. Menegur penatua yang secara konsisten terus berdosa. 1 Timotius 5 : 20-21 “Mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan semua orang agar yang lain itupun takut. 21 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak.” Bila dosa si penatua itu terus menerus ia lakukan, maka kita dapat menegurnya di hadapan jemaat dengan tujuan agar si penatua itu menjadi segan.

2.C. Melepaskan jabatan penatua untuk pemulihan. Bilamana si penatua tetap juga berdosa, maka ia harus dilepaskan dari jabatannya. Tujuan dari melepaskan jabatan penatua adalah memberikan kesempatan agar ia bertobat dan mengalami pemulihan: yaitu dipulihkan di hadapan Tuhan, di hadapan keluarganya, dan di hadapan gereja lokalnya. Setelah pemulihan ini maka ia harus kembali memenuhi prasyarat seorang penatua menurut Alkitab sebelum dapat dipilih kembali menjadi seorang penatua.

3. Tuntutan bagi Penatua

Alkitab memberikan banyak tuntutan bagi seorang yang melayani sebagai penatua, antara lain:


3.A. Penatua adalah pelayan. Matius 23 : 11 “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Seorang penatua bukanlah pemimpin yang memerintah, tetapi mereka adalah pelayan-pelayan jemaat.

3.B. Penatua harus bekerja dalam persatuan. Filipi 2 : 2-3 “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Para penatua harus bersatu dalam segala sesuatu tentang kehendak Allah, memiliki kesepakatan kesatuan doktrin dan filosofi untuk melayani di gereja, dan berbagi visi bersama.

3.C. Penatua harus setia. 1 Korintus 4 : 2 “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” Kekuatan persatuan gereja juga terletak dari bagaimana para penatua mengasihi Tuhan, gembala senior, para pengerja, keluarga para pengerja, dan semua jemaat gereja dengan setia.

Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Manakah persyaratan yang seringkali diabaikan gereja saat memilih seorang panatua, dan apakah dampaknya?

2. Apa yang terjadi bila seorang penatua tidak ditegur sesuai dengan prosedur kebenaran firman Tuhan?