Program Harvest International Curriculum


Trimester 5


Kehidupan yang Memberi Sesi 2 dari 5


Topik Sesi 2: Memulai Gaya Hidup Memberi



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan


Lukas 12 : 48 “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”


Markus 10 : 45 “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”


1 Korintus 4 : 1-2 “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”

Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Dalam bagian terdahulu, kita sudah membahas beberapa sukacita dan berkat dari gaya hidup memberi, sebuah gaya hidup seperti Yesus Kristus. Markus 10 : 45 “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kita juga telah membahas bahwa membayarkan persepuluhan hanyalah langkah awal hidup memberi. Firman Tuhan mengajar bahwa bila kita tidak memberikan persepuluhan maka itu sama dengan menipu Tuhan. Maleakhi 3 : 8 “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!” Di sesi ini kita akan membahas bagaimana memulai gaya hidup memberi. Untuk memulainya kita harus memahami dahulu landasan firman Tuhan dan hal-hal yang kita harus patuhi.

1. Allah adalah Pemilik Sejati dari Hidup Kita dan Seisinya

Di 1 Tawarikh pasal 29, Raja Daud sedang mempersiapkan Salomo yang akan menjadi penerusnya untuk membagun Bait Suci untuk Allah. Ia telah mempersiapkan segala emas, perak, tembaga, dan berbagai permata agar Salomo nanti menggunakannya dalam bangunan kudus itu. 1 Tawarikh 29 : 6-7 “Dengan sukarela, para pemimpin kaum dan para kepala suku Israel, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus, dan para pemimpin pekerjaan bagi raja menyerahkan bagi ibadah di Bait Suci Allah lima ribu talenta emas, 10 ribu dirham, 10 ribu talenta perak, 18 ribu talenta tembaga, serta 100 ribu talenta besi.” Lalu kita akan teruskan di 1 Tawarikh 29 : 12-14 “Kekayaan dan kemuliaan adalah dari pada-Mu, Engkau berkuasa atas segala-galanya. Di dalam tangan-Mulah terdapat kekuatan dan kejayaan! Dalam tangan-Mulah menjadi besar dan kokoh segala sesuatu! Sekarang, ya Allah, kami bersyukur, dan memuji nama-Mu yang agung! Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu menjadi kuat dan memberikan persembahan sukarela ini? Sebab dari Engkaulah segala-galanya, dan dari tangan-Mulah persembahan yang kami berikan.”


1.A. Kita adalah pengelola, sebab segala sesuatu berasal dari Tuhan. Di bagian akhir dari ayat tersebut Raja Daud memproklamirkan bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu yang ia miliki. Pada saat kita memberi kepada Tuhan, kita hanya mengembalikan apa yang Tuhan telah terlebih dahulu memberikan kepada kita. Oleh sebab itulah kita disebut sebagai pengelola-pengelolanya Tuhan belaka.

1.B. Kita adalah pelayan. 1 Korintus 4 : 1-2 “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” Ayat ini membuktikan bahwa kita hanyalah administrator yang mengelola segala yang kita miliki, sedangkan Tuhan adalah pemilik semua ini yang sejati. Bila kita memiliki pandangan seperti ini, maka kita tidak akan punya masalah untuk memberi apa saja kepada Tuhan.


1.C. Kita sudah dibeli lunas. 1 Korintus 6 : 20 “Sebab, kamu telah ditebus dengan harga lunas. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Ayat ini meneguhkan kembali bahwa hidup kita pun juga telah dibeli oleh darah Yesus, sehingga tubuh kita sekalipun sudah seharusnya diberikan kepada Tuhan juga.

1.D. Bila kita telah diberikan banyak, maka kita akan dituntut banyak juga. Lukas 12 : 48b “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." Dengan demikian kita memiliki tanggung jawab kepada Tuhan untuk semua yang kita miliki termasuk talenta-talenta kita. Tuhan memang ingin memberkati kita, tetapi tujuan Dia memberkati kita adalah agar kita menjadi berkat bagi orang lain.


2. Memulai Gaya Hidup Memberi dengan Apa yang Kita Miliki

Seluruh isi Alkitab mengajarkan bahwa kita bisa memberi dengan apa yang sekarang ini kita miliki.


2.A. Petrus memberi yang ia miliki. Kisah Para Rasul 3 : 6 “Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"” Di sini Petrus mulai memberi dengan apa yang saat itu ia miliki, yaitu kebenaran tentang Yesus.

2.B. Janda di Sarfat memberikan roti terakhir miliknya. Di Kitab Raja-Raja pasal 17 ada seorang janda di Sarfat yang bertemu dengan nabi Elia dan memberikan persediaan makanan yang ia miliki, meskipun ini adalah seluruh sisa makanan miliknya. Ini adalah suatu pengorbanan yang besar. Tetapi janda tersebut percaya kepada apa yang Allah katakan kepadanya melalui nabi Elia di 1 Raja-Raja 17 : 14 “Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."” Setelah janda ini memberikan makanan terakhirnya, maka janda tersebut mengalami mujizat yang membuatnya memiliki cukup makanan bagi dia, anaknya dan nabi Elia hampir setahun lamanya. 1 Raja-Raja 17 : 15-16 “Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.”

2.C. Seorang anak memberikan makanannya untuk meberi makan 5000 orang. Yohanes 6 : 9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Berkat yang sedikit milik seorang anak ini dimultiplikasi oleh Yesus sehingga cukup untuk memberi makan 5000 orang.

3. Belajar Memberi dengan Benar.

Kita harus mulai belajar memberi dengan apa yang kita miliki, tetapi kita melakukannya dengan motivasi hati yang benar.


3.A. Memberi dengan sukarela. Di 1 Tawarikh 26 : 6 yang kita sudah baca sebelumnya dikatakan pada awal kalimat bahwa dengan sukarela para pemimpin kaum dan para kepala suku Israel memberikan harta mereka demi pembangunan Bait Suci. Sukarela berarti kita memberi bukan karena terpaksa.

3.B. Memberi dengan ucapan syukur. Kita memberi dengan rasa syukur begitu besar sehingga memberi itu dilakukan semudah kita bernafas. In seharusnya sudah menjadi gaya hidup kita. Bila kita sungguh mensyukuri kehidupan yang kita miliki sekarang, maka memberi adalah ekspresi tindakan akan ucapan syukur kita itu. Sebagai salah satu contoh kita bisa membacanya di Lukas 7 : 37-38 di mana kita mendapati kisah seorang perempuan yang berdosa yang meminyaki kaki Yesus dengan air matanya dan minyak wangi yang mahal.

3.C. Memberi dengan mempermuliakan Tuhan. 1 Korintus 10 : 31 “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Kolose 3 : 17 “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Ayat-ayat ini mengajar agar semua yang kita lakukan itu kita lakukan hanya untuk kemuliaan Allah semata.

3.D. Memberi dengan sukacita. 2 Korintus 9 : 7 “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Setiap pemberian harus diiringi dengan hati yang penuh sukacita. Tetapi seringkali ayat ini membuat orang-orang memberi dengan jumlah yang sedikit saja, karena mereka pikir yang terpenting adalah memberi dengan sukacita. Namun di ayat sebelumnya dikatakan 2 Korintus 9 : 6 “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Berarti dalam kesatuan ayat di atas, kita diingatkan agar menabur sebanyak-banyaknya dengan tidak lupa melakukannya dengan sukacita.


4. Memberi Harus dengan Iman

Banyak orang berusaha menjadi terlalu rohani, sehingga saat mereka memberi kepada Tuhan maka mereka tidak berharap apa-apa dari Tuhan. Tetapi pandangan seperti ini tidak benar, bahkan sebenarnya saat melakukan ini mereka mengabaikan firman Tuhan. Firman Tuhan banyak mengajar tentang menuai dan menabur. Bila kita adalah seorang petani, apakah mungkin kita hanya suka menabur tanpa menuai? Setiap petani itu menabur agar pada waktunya nanti ia berharap akan menuai.


4.A. Menuai sesudah menabur. Lukas 6 : 38 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Setiap kali kita menabur, ada 2 hal yang kita harapkan:

4.A.1. Kita menabur untuk mencukupkan suatu kebutuhan.

4.A.2. Kita akan menuai, supaya kita bisa menabur lebih banyak lagi.


4.B. Ukuran dalam menabur sesuai dengan tuaian. Di Lukas 6 : 38 dikatakan bahwa ukuran yang dipakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita. Bila kita memberi dengan ukuran satu sendok teh, maka Tuhan pun akan menganugerahkan tuaian dalam ukuran satu sendok teh. Tetapi bila kita memberi dengan satu sekop, maka ukuran itulah yang akan diukurkan kepada kita saat menuai.

4.C. Iman kreatif. Kita tidak dapat menabur dengan cara yang sama terus menerus dan lalu mengharapkan untuk menuai hasil yang berbeda. Bila kita rindu Allah melakukan hal yang baru bagi kita, maka kita pun juga harus melakukan sesuatu hal yang belum pernah kita lakukan bagi Allah sebelumnya. Iman kreatif juga artinya percaya bahwa kita akan menerima sesuatu yang hanya Tuhan sendiri yang sanggup berikan. Kita perlu masuk ke dalam dimensi yang baru, dan mulai memiliki gaya hidup memberi.


Penutup

Apa yang kita pelajari di sesi ini bukan bermaksud untuk memberikan kita pola pikir bahwa menabur itu semata-mata dilakukan demi kita menuai. Tetapi pola pikir yang benar adalah kita adalah orang yang diberkati Tuhan karena kita tidak bisa menahan diri untuk menabur di mana-mana.



Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Bagaimana cara anda menasihati seseorang yang selalu menolak untuk memberi kepada Tuhan?

2. Bagian mana tentang memberi dengan iman yang menginspirasikan anda? Jelaskan.