Program Harvest International Curriculum


Trimester 1


Menjadi Pemimpin Sel Sesi 1 dari 1


Topik: Menjadi Pemimpin Sel



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan

Efesus 4 : 16 “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”

Yakobus 5 : 16 “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”


Amsal 17 : 22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”


Bagian 2: Topik Kuliah

Pendahuluan

Sesi ini mengajarkan dasar Alkitab tentang bagaimana menjadi pemimpin suatu kelompok sel. Kita akan dasar-dasar yang menjadikan seseorang sebagai pemimpin sel yang efektif dengan potensi pertumbuhan besar.


1. Hasil Riset tentang Pertumbuhan Kelompok Sel. Dalam suatu riset atas sekitar 900 kelompok sel dari 8 negara didapati beberapa fakta-fakta.

1.A. Hasil riset tentang hal-hal yang tidak mempengaruhi pertumbuhan dari suatu kelompok sel:

1.A.1. Pertumbuhan kelompok sel tidak tergantung pada usia dari si pemimpin. Seringkali kita merasa terlalu muda atau terlalu tua untuk memimpin suatu kelompok sel. Yang terpenting dalam memimpin suatu kelompok sel adalah bagaimana kita memimpin dengan benar.

1.A.2 Pertumbuhan kelompok sel tidak tergantung jenis kelamin si pemimpin. Entah si pemimpin adalah seorang pria atau wanita, ini tidak mempengaruhi pertumbuhan dari suatu kelompok sel.

1.A.3. Pertumbuhan kelompok sel tidak tergantung pada status ekonomi, sosial, dan pendidikan si pemimpin kelompok sel. Berarti pertumbuhan kelompok sel tidak terpengaruh oleh berapa besar rumah kita, seberapa kayanya kita, seberapa populernya kita, atau apakah kita orang yang berpendidikan.

1.A.4. Pertumbuhan kelompok sel tidak tergantung pada status pernikahan si pemimpin. Mereka yang belum menikah bisa memimpin kelompok sel dengan efektifitas yang sama dengan mereka yang sudah menikah.

1.A.5. Pertumbuhan kelompok sel tidak tergantung pada kepribadian dari si pemimpin. Seringkali kita berpikir bahwa untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memiliki kepribadian tertentu, misalnya kepribadian yang terbuka, yang mendominasi, atau kepribadian yang mampu mengambil keputusan besar. Tetapi rupanya hal-hal ini tidak memiliki pengaruh tentang pertumbuhan suatu kelompok sel. Dalam riset ini ditemukan bahwa kita tidak perlu punya karunia untuk bisa berbicara hebat atau berbicara di depan umum dengan percaya diri. Kita tetap bisa menjadi pemimpin yang efektif meskipun kita tidak memiliki karakteristik kepribadian yang kita anggap ideal.

1.A.6. Pertumbuhan kelompok sel tidak tergantung pada apakah si pemimpin memiliki karunia kepemimpinan. Kita biasanya berpikir kalau kita memiliki karunia kepemiminan maka secara otomatis kita bisa memimpin. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki karunia kepemimpinan? Riset membuktikan tanpa memiliki karunia kepemimpinan seseorang tetap bisa menjadi seorang pemimpin kelompok sel yang efektif.


1.B. Hasil riset tentang hal-hal sangat yang mempengaruhi pertumbuhan dari suatu kelompok sel:

1.B.1. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh banyaknya waktu untuk berdoa. Kuantitas waktu yang dialokasikan untuk berdoa oleh suatu kelompok sel mempengaruhi tingkat pertumbuhannya.

1.B.2. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh doa si pemimpin kepada para anggotanya. Bila pemimpin kelompok sel selalu mendoakan setiap anggotanya maka kelompok sel itu akan bertumbuh dua kali lebih pesat daripada kelompok sel lainnya.

1.B.3. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh iklim keramahan-tamahan dalam kelompok sel tersebut. Iklim ini mencakup semua aktifitas sosial dari kelompok tersebut, dan juga termasuk bagaimana si pemimpin memberikan waktunya untuk melayani para anggota dan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang dimaksud di sini bisa juga mereka yang ada di luar kelompok sel. Saat si pemimpin melayani orang-orang ini dengan benar maka mereka bisa menjadi mereka yang nantinya turut bergabung dalam kelompok selnya.

1.B.4. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh jumlah anggota yang aktif. Lebih banyak anggota yang aktif maka lebih besar kemungkinan mereka akan menarik anggota-anggota yang baru. Orang-orang yang aktif memiliki kebiasaan untuk sering mengundang orang-orang di sekitar mereka dalam banyak kegiatan pribadinya. Orang-orang di sekitar mereka ini lambat laun akan tertarik juga untuk menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok sel dan pada akhirnya juga bergabung.

1.B.5. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh kebiasaan membangkitkan pemimpin baru. Program tidak memicu pertumbuhan suatu kelompok sel, meskipun program dibuat untuk mendorong pertumbuhannya. Tetapi kelompok sel tidak bisa bertumbuh sampai ada seorang pemimpin yang mengambil posisinya. Jadi saat ada pemimpin baru yang bangkit maka saat itulah kelompok sel mulai mengalami pertumbuhan.

1.B.6. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh jelasnya sasaran yang dituju. Semua kelompok sel yang sukses selalu memiliki visi, objektif, ataau sasaran yang jelas. Hubungan antar anggota harus lebih produktif dari sekedar bertatap muka. Bila ada sasaran yang dituju, maka hubungan yang terbangun dalam kelompok sel ini memiliki makna yang lebih dalam. Oleh sebab itu penting sekali bagi si pemimpin untuk memaparkan tujuan yang jelas yang ingin dicapai oleh kelompoknya dan juga dimengerti oleh setiap anggotanya.

1.B.7. Pertumbuhan kelompok sel dipengaruhi oleh persiapan dalam setiap pertemuannya. Setiap kali suatu kelompok sel bertemu si pemimpin harus menjadi manajer yang baik yang memastikan kesiapan rohani dan kesiapan diri dalam membawakan pengajaran dalam setiap pertemuan. Ia juga harus dapat membagikan pengajaran dari dalam isi hatinya sendiri.


2. Cara Menyelenggarakan Pertemuan Kelompok Sel.

Ada beberapa hal penting yang harus dipahami dalam rangka menyelenggarakan pertemuan kelompok sel:


2.A. Dalam kelompok sel kita sedang membagikan kehidupan. Orang-orang tidak mau datang hanya untuk mendapatkan informasi. Dalam interaksi harus ada kesaksian-kesaksian hidup yang memberi makna pada firman Tuhan yang diajarkan. Si pemimpin juga harus memberikan ilustrasi kehidupannya sendiri.

2.B. Dalam kelompok sel kita harus mengajar keintiman hubungan dengan Tuhan. Ini bisa dilakukan dengan menekankan doa yang bercakap-cakap dengan Tuhan, sehingga semua anggota bisa berbicara secara pribadi dan terbuka dengan Tuhan. Ini bisa dikembangkan juga dengan puji-pujian dan ucapan-ucapan syukur. Bila setiap anggota bisa mengekspresikan hatinya kepada Bapa maka kita bisa membangun rajutan persatuan dalam kelompok itu.

2.C. Dalam kelompok sel kita harus mempercakapkan dan mengaplikasikan Alkitab. Semua percakapan harus didukung oleh kebenaran firman Tuhan. Seorang pemimpin sel dengan demikian dituntut untuk bisa menghafalkan ayat-ayat firman Tuhan tertentu agar dalam pembicaraannya ia selalu dapat mengutip firman yang tepat. Dalam diskusi kelompok maka si pemimpin harus dapat mengaplikasikan firman Tuhan secara praktis dalam kasus-kasus yang dibicarakan, dan menjelaskan bagaimana firman dapat mendatangkan perubahan yang diinginkan.

2.D. Memastikan bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam setiap pertemuan kelompok sel. Alkitab bukan saja penuntun, tetapi juga merupakan otoritas tertinggi dari setiap pertemuan kelompok sel.

2.E. Jangan mendiskusikan doktrin yang sifatnya memecah belah. Doktrin biasanya adalah sesuatu yang dihargai oleh satu individu, tetapi belum tentu disetujui oleh individu lainnya. Bila doktrin terus menerus dibahas maka akan timbul rasa sakit hati pada anggota-anggota kelompok sel.

2.F. Berikan kesempatan anggota kelompok untuk saling menguatkan. Efesus 4 : 16 “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” Suatu kelompok sel harus dapat mempraktekkan konsep Tubuh Kristus dengan sangat efektif dengan mengijinkan setiap anggota menjadi anggota Tubuh Kristus yang berbeda.

2.G. Selalu memulai dan mengakhiri pertemuan dengan doa yang bercakap-cakap dengan Tuhan. Saat pertemuan dimulai, si pemimpin harus segera membawa grup ini ke dalam hadirat Tuhan. Setiap perhatian anggota sejak awalnya berpusat langsung kepada Tuhan. Saat pertemuan diakhiri, si pemimpin juga harus membawa setiap anggota dalam doa-doa agar mereka bisa segera mengaplikasikan firman yang dibahas.

3. Partisipasi dalam Kelompok Sel.

Partisipasi dalam setiap anggota kelompok sel adalah kunci menuju kesuksesan dari setiap kelompok sel.


3.A. Tugas dari pemimpin kelompok sel. Tugas utama dari si pemimpin bukanlah menjadi orang yang berotoritas atau guru, melainkan menjadi seorang fasilitator dalam kelompoknya. Ia ada di situ untuk melayani setiap anggota agar mereka untuk mendorong setiap anggota agar turut berpartisipasi aktif.

3.B. Pengaturan posisi duduk pertemuan. Cara terbaik untuk duduk dalam kelompok sel adalah dalam bentuk lingkaran, sehingga memungkinkan setiap anggota untuk berpartisipasi penuh.

3.C. Hormati kebebasan seseorang untuk tidak bebicara. Jangan paksa seseorang untuk memberi tanggapan. Bila seseorang terlalu malu atau tidak ingin berbicara atau berdoa maka kita tidak perlu membuatnya merasa tertekan. Tetapi si pemimpin kelompok sel tetap harus menolong orang tersebut supaya ia juga diperhitungkan menjadi anggota kelompok dengan memberikan partisipasi yang berbeda.

3.E. Responi setiap kebutuhan yang ada dengan kasih. Bila ada suatu kebutuhan yang timbul, si pemimpin harus segera meresponinya tanpa membuang waktu. Contohnya, bila ada anggota yang sedang berbagi kisah tentang suatu kesulitan, maka jangan sampai kebutuhan orang tersebut diabaikan atau ditangguhkan untuk dibicarakan di kemudian hari. Si pemimpin harus segera ambil inisiatif untuk mendoakan orang tersebut, atau melakukan tindakan nyata untuk menolong dia. Setiap tanggapan yang diberikan harus dilakukan dalam kasih. Berikut adalah 3 contoh cara yang Alkitab ajarkan bagaimana cara meresponi suatu kebutuhan dari seorang anggota kelompok:

3.E.1. Bila ada kebutuhan untuk rekonsiliasi dengan sesama, si pemimpin bisa mengajar untuk saling mengaku dosa. Yakobus 5 : 16 “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

3.E.2. Bila ada kebutuhan untuk kekuatan, si pemimpin sel bisa mengajar para anggota untuk saling mendoakan.

3.E.3. Bila ada kebutuhan untuk kesembuhan, si pemimpin sel bisa mengarahkan pertemuan pada saat itu menjadi suatu ibadah penyembuhan.


3.F. Mendorong setiap anggota untuk berpartisipasi. Cara terbaik untuk mendorong seseorang untuk ikut berpartisipasi adalah dengan membuat orang tesebut merasa penting dan ikut diperhitungkan. Ini bisa dilakukan dengan menghargai setiap pertanyaan atau pendapatnya. Seorang pemimpin tidak boleh menyepelekan setiap pertanyaan atau pernyataan dari seseorang. Setiap orang harus diberikan kesempatan yang sama untuk berbagi. Kita harus perhatikan bahwa interaksi kelompok sel bukanlah suatu sesi terapi kejiwaan yang membuat si pemimpin menjadi seorang psikolog. Interaksi dan percakapan harus dilakukan dalam fondasi kebenaran firman Tuhan.


4. Cara Memimpin Kelompok Sel yang Benar


4.A. Menjadi teladan. Apapun yang dilakukan seorang pemimpin maka anggotanya akan menirunya. Bila seorang pemimpin mulai membuka diri dan mengakui kesalahan-kesalahannya maka para anggotanya pun juga akan melakukan hal yang sama.

4.B. Memimpin dengan kasih. Setiap pemimpin kelompok sel harus ijinkan kasih, pengampunan, dan saling menerima menjadi tradisi utama dari kelompok sel yang dipimpinnya. Dalam kasih inilah maka para anggota disembuhkan dan dipulihkan.

4.C. Selalu menindak lanjuti segala kebutuhan pelayanan. Setiap pemimpin yang baik mengerti pentingnya untuk menindak lanjuti segala kebutuhan para anggotanya. Ia pun juga harus bisa mengajar setiap anggotanya untuk melakukan hal yang sama. Bila ada keluarga dari salah satu anggota perlu dilayani, maka si pemimpin harus mengkoordinasikan kelompoknya sebagai satu kesatuan tim melayani.

4.D. Seorang pemimpin sel harus terus menerus bertumbuh. Ini berarti si pemimpin sendiri harus senantiasa mempelajari hal-hal yang baru. Ia harus terus-menerus mendalami firman Tuhan. Ini juga berarti si pemimpin bukan saja memelihara hubungan yang intim dengan Tuhan dan semakin bertumbuh dalam hubungan tersebut. Para anggota harus menyaksikan bahwa si pemimpin adalah orang yang paling pesat pertumbuhannya di tengah kelompok sel ini. Pertumbuhan si pemimpin akan memotivasi pertumbuhan setiap anggotanya, memicu mereka untuk dilatih untuk menjadi pemimpin penerus yang lebih hebat.

4.E. Seorang pemimpin kelompok sel harus menerima panggilannya. Ia harus yakin bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk memimpin kelompok sel ini. Ia juga harus bisa menerima dirinya sendiri sebagai seseorang yang Tuhan kasihi dan pelihara sedemikian rupa sehingga saat ia menjangkau orang lain maka mereka juga akan merasa nyaman dengan bagaimana Tuhan juga mengasihi dan memelihara mereka.

4.F. Seorang pemimpin kelompok sel harus tahan banting. Ia tidak boleh menyerah, meskipun terkadang dalam kelompok sel akan ada orang-orang yang mengatakan hal-hal yang mengejutkan. Kunci yang terpenting adalah bagaimana si pemimpin meresponi ucapan-ucapan tersebut. Seorang pemimpin dituntut untuk dapat memberikan respon, bukan memberikan reaksi. Ia tidak boleh menghakimi, bersikap kasar, atau bersikap subyektif. Ia harus memberikan respon dengan kasih dan hikmat Tuhan.

4.G. Seorang pemimpin kelompok sel harus bersuka cita dalam melayani. Ia harus senantiasa memiliki suka cita Tuhan dalam hatinya setiap kali ia melakukan tugas-tugasnya. Para anggotanya tidak boleh mendapati si pemimpin dalam kesedihan atau dalam keputus-asaan. Amsal 17 : 22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

4.H. Seorang pemimpin yang baik merendahkan hatinya, bersedia datang kepada anggotanya saat ia sedang membutuhkan dukungan. Ada pemimpin yang suka melayani kelompoknya, tetapi saat ia menghadapi masalah maka ia akan datang ke orang lain untuk mendapatkan dukungan dan kekuatan. Sebagai orang percaya, seorang pemimpin pun juga pasti mengalami masalah hidup dan membutuhkan dukungan orang lain. Dalam hal ini si pemimpin harus ijinkan kelompok selnya itu yang melayani dia.


5. Cara Menghadapi Masalah-Masalah dalam Kelompok Sel.


5.A. Mengatasi anggota yang bermasalah. Cara terbaik untuk menghadapi anggota kelompok sel yang bermasalah adalah dengan melakukannya secara pribadi. Jangan ijinkan anggota yang bermasalah menciptakan konflik besar dalam kelompok.

5.B. Bila ada kesalahan dari seorang anggota, maka ijinkan ia mengakui kesalahannya sendiri. Setiap anggota harus bertumbuh dalam kedewasaan sehingga ia bukan saja memahami tetapi mengakui kesalahannya di depan seluruh kelompok. Jangan ijinkan anggota mengakui kesalahan dari anggota yang lainnya.

5.C. Jangan ijinkan ada gosip yang beredar di kelompok sel. Setiap jejak-jejak gosip yang mulai beredar di dalam kelompok sel harus segera dituntaskan dalam kebenaran.

5.D. Mengatasi kelompok sel yang kaku. Si pemimpin harus bisa memfasilitasikan kelompok sel-nya dengan cara yang rileks dan bersahabat, sehingga setiap anggota kelompok sel memiliki saling keterbukaan dan kejujuran. Dalam tuntunan Roh Kudus maka si pemimpin dapat membuka jalan untuk mendorong para anggota untuk mulai terbuka dan mendiskusikan hal-hal yang penting dalam hidup mereka.

5.E. Bila ada masalah yang cukup besar, si pemimpin harus mencari dukungan dari gembala gereja atau pemimpin-pemimpin di atasnya. Seorang pemimpin kelompok sel tidak memimpin seorang diri. Setiap kelompok sel dibentuk dengan struktur agar sang pemimpin ada dalam payung penggembalaan dari kepengurusan gereja. Memiliki masalah dalam kelompok sel bukanlah sesuatu yang memalukan, tetapi sesuatu yang perlu ditanggapi dan ditaklukkan bersama-sama.


Penutup

Seorang pemimpin sel harus memahami bahwa Kristus-lah pemimpin dari semuanya, dan Kristus-lah yang menjadi pusat dari segala kegiatan kelompok selnya. Cara paling sempurna untuk menggambarkan seorang pemimpin kelompok sel adalah bahwa ia hanya mengikuti teladan dari Kristus.



Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Bila anda merasa tidak memiliki karunia kepemimpinan, maka bagaimana pengajaran sesi ini meyakinkan anda bahwa anda tetap bisa menjadi pemimpin kelompok sel yang efektif?

2. Bagian mana dalam sesi pengajaran ini yang sangat menginspirasikan anda sehubungan dengan kelompok sel yang sekarang ini anda miliki? Jelaskan.