Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Mengembangkan Kepemimpinan Sesi 5 dari 5



Topik : Perangkap bagi Pemimpin Visioner

Bagian 1: Daftar Ayat Renungan


Yohanes 9: 1-23 “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. (2) Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (3) Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. (4) Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. (5) Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia." (6) Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi (7) dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. (8) Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?" (9) Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu." (10) Kata mereka kepadanya: "Bagaimana matamu menjadi melek?" (11) Jawabnya: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat." (12) Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Jawabnya: "Aku tidak tahu." (13) Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. (14) Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. (15) Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." (16) Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka. (17) Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi." (18) Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya (19) dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?" (20) Jawab orang tua itu: "Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, (21) tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri." (22) Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. (23) Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri."


Pendahuluan

Di dalam Injil Yohanes pasal 9 kita akan mengulas suatu pokok bahasan penting tentang perangkap bagi seorang pemimpin yang memiliki visi Tuhan. Amsal 29 : 18a “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Ayat ini dalam terjemahan bahasa Inggrisnya berkata bahwa tanpa visi maka rakyat akan binasa. Ada begitu banyak seorang pemimpin kehilangan potensinya karena ia tidak memiliki visi. Ada pemimpin yang sudah memiliki visi, tetapi visi mereka salah arah. Dan ada juga pemimpin yang punya visi tetapi visinya tidak realistis. Visi yang tidak realistis adalah visi yang didapati bukan berdasarkan iman, tapi berdasarkan anggapan atau praduga pribadi saja.


Allah berkehendak agar kita menjadi seorang pemimpin visioner, karena dengan visi Tuhan maka kita bisa menemui banyak kesempatan-kesempatan baru. Dengan demikian hidup kita dapat dipenuhi dengan tujuan yang lebih besar lagi. Tentunya setiap pemimpin visioner pasti harus berhadapan dengan pertentangan, yaitu orang-orang yang tidak sepaham dengan visinya. Yohanes pasal 9 mengisahkan tentang seorang buta yang disembuhkan Yesus. Yesus menganugerahkan suatu penglihatan kepada orang yang sebelumnya tidak dapat melihat. Dengan cara yang sama Roh Alllah yang bekerja dalam diri kita juga menganugerahkan kepada kita visi yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Ada banyak orang di dunia ini dapat melihat secara jasmani, tapi secara rohani mereka tidak memiliki visi Tuhan. Louis Braille adalah seorang penemu huruf-huruf Braille untuk penyandang disabilitas netra. Suatu saat ada yang bertanya kepadanya apakah ada yang lebih buruk daripada menjadi orang buta? Dia menjawab ada, yakni bila kita mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat. Orang seperti ini sama dengan mereka yang bisa melihat tetapi tidak bisa melihat visi Tuhan. Banyak pemimpin bekerja hanya untuk sekedar mempertahankan posisi mereka. Tetapi seorang pemimpin seharusnya memiliki visi Tuhan, yang membuatnya menjadi pemimpin visioner. Tetapi di sekeliling seorang pemimpin visioner selalu ada banyak orang-orang yang memiliki pola pikir yang sama dengan orang-orang yang ada di sekeliling orang buta di Yohanes pasal 9. Mereka adalah orang-orang yang dapat melihat, namun secara rohani mereka buta. Mereka bisa menjadi perangkap bagi para pemimpin yang mengemban visinya Tuhan. Di sesi ini kita akan mengulas Injil Yohanes 9 : 2-23 di mana kita akan menemukan ada 5 kelompok orang yang telah terperangkap pada pola pikir mereka masing-masing sehingga mereka kurang memiliki atau bahkan kehilangan visi dari Tuhan. Sebagai seorang pemimpin kita harus waspada agar jangan sampai kita terperangkap ke dalam pola pikir mereka itu.


Bagian 2: Topik Kuliah.


1. Para Murid adalah Kelompok yang Memiliki Roh Analisa Yohanes 9 : 2-5 “Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" 3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. 4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."


1.A. Pandangan para murid hanya terpusat pada sumber dari masalah. Para murid bertanya apakah orang itu buta karena dosanya sendiri atau dosa orang tuanya. Tetapi Yesus menerangkan bahwa kebutaan itu bukan terjadi karena dosanya sendiri dan bukan karena dosa orang tuanya. Beda dengan para murid yang cenderung fokus hanya pada sebab masalahnya, Yesus siap berkomitmen untuk memberikan solusi pada masalah.

1.A.1. Gereja sering terperangkap dalam menganalisa masalah dan sumber-sumbernya. Banyak gereja terperangkap dengan kekeliruan ini. Mereka terpaku pada masalah demi masalah yang dialami. Mereka lalu banyak mengadakan pertemuan-pertemuan, retreat, seminar hanya untuk menganalisa berbagai masalah dan membahas dari mana masalah-masalah itu bermula.

1.A.2. Akibatnya banyak gereja dilumpuhkan oleh rasa takut. Para psikolog mengatakan hal ini seperti suatu kondisi schizophrenia catatonic, istilah yang digunakan untuk suatu kondisi psikologis di mana seseorang bangun dari ranjangnya lalu hanya duduk saja di sudut ranjangnya. Orang tersebut tidak mau bergerak karena takut. Demikian juga dengan kondisi gereja yang terpaku pada analisa dari masalah saja. Mereka jadi tidak berani bergerak karena ketakutan.

1.A.3. Akal budi cenderung mempertanyakan segala sesuatu. Para murid berpikir pertanyaan mereka adalah pertanyaan yang teologis dan bagus. Namun Yesus tidak memandang sumber kebutaan orang tersebut bisa mendatangkan jawaban. Oleh sebab itu Yesus segera bertindak untuk memberikan solusi. Demikian juga kita sebagai seorang pemimpin. Bila kita terus menerus mencari alasan mengapa sesuatu terjadi maka kita bisa lupa untuk mencari solusi apa yang harus kita lakukan demi pekerjaan Tuhan.


1.B. Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya untuk bertindak

1.B.1. Apa yang Tuhan katakan kepada gereja sekarang ini sama seperti yang Dia katakan 2000 tahun yang lalu. Amanat Agung memerintahkan agar kita pergi dan menjadikan segala bangsa murid-murid Yesus, membaptis dan juga mengajar mereka. Setiap murid harus dilatih dan kemudian dilepaskan dalam pelayanan agar mereka dapat kemudian memuridkan orang lain. Seseorang bisa saja mempunyai banyak titel sebagai pengajar dan mempunyai pengetahuan yang luas. Tetapi harus ada waktunya ia keluar dari sekolah dan mulai melakukan apa yang harus dilakukan, sama seperti Yesus juga mengajar dan melakukan.

1.B.2. Setiap pemimpin harus mulai menindak-lanjuti panggilannya sesuai kehendak Allah. Saat seseorang mau merintis suatu usaha, dia akan memulainya dengan mencetak kartu nama, mendaftarkan perusahaannya dan, dan melakukan persiapan pembukaan usahanya. Sama halnya juga di gereja. Bila kita adalah seorang pemimpin kita bisa saja memulai pelayanan kita secara administratif. Kita mungkin memulainya dengan menulis surat, mengikuti banyak pelatihan, membaca buku, dan mendengarkan rekaman-rekaman pengajaran. Tetapi Alkitab katakan kita juga harus memulai pelayanan kita dengan tindakan nyata. Kita tidak boleh berdiam saja dalam ketakutan. Kita harus melangkah dan mulai melakukan hal-hal yang Allah panggil untuk kita lakukan.


1.C. Jangan selalu fokus pada masalah. Firman Allah katakan kita sudah dimerdekakan. Jadi saatnya sudah tiba untuk kita bangkit dan mulai bertindak sesuai kehendak Allah. Sebagai pemimpin kita perlu waspada agar jangan terperangkap dalam roh analisa saja. Jika kita ikuti langkah-langkah dari Yesus kita akan berhenti dalam lingkaran analisa demi analisa saja, dan mulai memberikan komitmen untuk mencari jawaban demi jawaban.


2. Para Tetangga adalah Kelompok yang Memiliki Roh Keakraban

Yohanes 9 : 8-9 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: ”Bukankah dia ini, yang selalu mengemis? 9 Ada yang berkata: ”Benar, dialah ini. ”Ada pula yang berkata: ”Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.”Orang itu sendiri berkata: ”Benar, akulah itu." Di ayat-ayat ini kita mendapati bahwa para tetangga orang buta tersebut sebelumnya telah mengenalnya dan tahu persis bahwa dia memang dulunya buta. Tetapi karena sekarang orang buta itu mengalami mujizat Yesus dan bisa melihat, maka para tetangga memiliki kesulitan untuk mengenali dia.


2.A. Jika kita ingin diatur oleh orang-orang yang akrab dengan masa lalu kita saja, maka kita akan sulit bertumbuh menjadi orang yang diinginkan Allah. Orang-orang yang akrab dengan kita di masa lalu sudah kenal semua masa lalu kita yang mungkin penuh dengan ketidak-benaran. Tetapi Firman Allah seharusnya mengubah kita sedemikian rupa sehingga orang-orang yang dulunya akrab dengan kita sekarang tidak lagi dapat mengenali kita lagi. Berikut kita akan dalami lebih lanjut tentang orang-orang yang memiliki roh keakraban itu:

2.A.1. Mereka adalah orang-orang yang mengenali kelemahan-kelemahan kita dan mengetahui kesalahan-kesalahan kita di masa lalu kita. Mereka mengenal masa lalu kita dengan begitu akrab sehingga mereka berpikir Tuhan tidak akan pernah mau memakai hidup kita.

2.A.2. Hidup kita tidak bisa boleh dipengaruhi oleh pemikiran mereka. Mereka tidak dapat melihat sebagaimana Allah melihat kita. Pendapat mereka tentang kita bisa mengunci pikiran kita sehingga kita tidak bisa bangkit mencapai apa yang Allah inginkan kita capai. Kita harus ijinkan hanya Allah saja yang menentukan hidup kita dan arah pelayanan kita.

2.A.3. Visi menjadi pudar jika kita masih diatur oleh orang-orang yang akrab dengan masa lalu kita. Pastor Brian Houston dahulu meluncurkan suatu pelayanan yang disebut ”Power Ministry International,” yang tujuannya adalah untuk memberikan pengajaran-pengajaran pujian dan penyembahan dari gereja mereka. Pada waktu orang-orang mendengar nama pelayanannya beberapa orang tertawa karena di situ ada kata “internasional.” Tapi dengan kasih karunia Tuhan, pujian dan penyembahan dari Hillsong Australia sekarang sudah memberkati seluruh dunia. Sekarang tidak ada hari berlalu tanpa adanya permintaan tentang pengajaran-pengajaran dan khotbah-khotbah dari pelayanan ini dari negara-negara seluruh dunia. Orang yang menertawakan mereka dulu itu tidak dapat melihat apa yang Allah lihat. Mereka tidak dapat memahami apa yang Allah letakkan dalam semangat Pastor Brian Houston. Oleh sebab itu orang-orang yang memiliki roh keakraban adalah musuh dari visi Tuhan bagi para pemimpin visioner.

2.A.4. Sebagai pemimpin yang melayani, kita juga tidak boleh mengunci seseorang di masa lalunya. Janganlah kita juga memimpin orang lain dengan terus menerus menekankan kesalahan-kesalahan masa lalu mereka. Mereka yang kita layani suatu hari kelak juga akan menjadi seorang pemimpin. Oleh sebab itu kita perlu memberikan ruang gerak untuk bertumbuh dan berubah. Kita bersyukur bahwa Yesus sendiri tidak menghakimi masa lalu kita. Demikian juga kita tidak boleh menghakimi masa lalu orang lain.


3. Orang-orang Farisi adalah Kelompok yang Mewakili Roh Agamawi.

Yohanes 9 : 16 “Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu:”Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.”Sebagian pula berkata:”Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.”


3.A. Orang-orang Farisi sangat dipengaruhi oleh roh agamawi mereka. Orang-orang Farisi tidak bersedia untuk memahami keinginan Allah yang sesungguhnya. Mereka hanya dapat melihat apa yang diperintahkan Allah semata-mata melalui beragam aturan dan tata cara. Banyak orang yang hidupnya dipimpin oleh aturan ibadah yang membuatnya menjadi sangat agamawi. Orang-orang seperti ini pemikirannya menjadi sempit karena mereka tidak dapat melihat apa yang dilihat Allah dan tidak memahami apa yang dikehendaki Allah. Bila kita adalah pemimpin visioner, kita tidak boleh dipimpin oleh roh agamawi ini.

3.B. Orang-orang Farisi hanya mementingkan hari Sabat. Bagi orang-orang Farisi, memelihara hari Sabat adalah suatu bentuk kepatuhan yang layak. Tetapi Tuhan Yesus sering melakukan penyembuhkan pada hari Sabat. Yesus melakukan ini bukan karena kebetulan. Yesus sengaja melakukan ini membuktikan kemunafikan orang-orang Farisi, yaitu saat mereka memaksa orang-orang memelihara hari Sabat dalam ibadah kepada Allah, padahal hati mereka tidak sepenuhnya patuh kepada Allah. Mereka juga menempatkan hari Sabat lebih penting daripada perintah Tuhan untuk berbelas kasih.

3.C. Roh agamawi orang-orang Farisi juga adalah roh pemecah belah. Setelah orang-orang Farisi menyatakan keraguan mereka akan Yesus, lalu di situ terjadilah suatu pertentangan. Seorang pemimpin yang masih dituntun oleh roh agamawi seperti orang Farisi akan selalu menimbulkan pertentangan yang berujung pada perpecahan. Roh agamawi tidak bisa memahami mujizat Allah. Sebagai orang percaya kita tidak selalu tahu bagaimana Yesus akan memenuhi kebutuhan hidup kita. Teapi kita selalu mendapati adanya elemen-elemen kejutan yang membuat hidup bersama Yesus menjadi suatu petualangan yang menarik. Ada banyak cara Tuhan mau membuka pengertian kita akan hal-hal yang rohani yang lebih luas guna memenuhi tujuan panggilanNya. Yesus menyembuhkan dengan meludah dan mengaduknya dengan tanah. Metode ini pastinya tidak cocok itu dengan cara kita berpikir. Seseorang yang memiliki roh agamawi akan menghadapi kesulitan bila Allah mulai memperkenalkan cara-cara yang baru dalam melayani. Tetapi sebaliknya seorang pemimpin visioner selalu terbuka dengan cara-cara kreatif Allah dalam ia mematuhi dan melaksanakan panggilannya.


4. Orang-orang Yahudi adalah Kelompok yang Mewakili Roh Ketidak-percayaan

Yohanes 9 : 17-19 “Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi." 18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya 19 dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?"”


4.A. Orang-orang Yahudi tidak percaya meskipun mereka sudah berbicara dengan sang orang tua. Orang Yahudi dipenuhi oleh ketidak-percayaan. Ini adalah musuh besar bagi seorang pemimpin visioner.

4.A.1. Roh ketidak-percayaan ini sangat berpengaruh, dan biasanya berasal dari dalam diri kita sendiri. Kalau kita berhenti percaya akan apa yang Allah bisa lakukan dalam diri kita, maka saat itu kita mulai dipimpin oleh kemampuan kita sendiri saja. Pada saat itupun kita mulai kehilangan kuasa Tuhan untuk melaksanakan visiNya.

4.A.2. Kita perlu membangun iman yang kuat. Ibrani 10 : 35 “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Iman yang kokoh pasti menghasilkan buah-buah yang baik dari seorang pemimpin visioner.

4.A.3. Tetapi musuh selalu menabur benih ketidak-percayaan, yaitu agar kita melihat sekeliling dan melihat betapa besarnya tantangan kita. Musuh ingin kita hanya memperhatikan segala kekurangan yang ada. Iblis mau kita memperhatikan bahwa kita kurang cakap, kurang secara keuangan, kurang pengerja, kurang pendukung, beserta segala kekurangan-kekurangan lainnya. Seorang pemimpin visioner yang baik mengetahui bahwa Tuhan akan menyediakan seluruh kebutuhannya saat ia melaksanakan visi Tuhan.

4.A.4. Kita harus dapat taklukkan setiap ketidak-percayaan supaya rencana Allah yang besar boleh terjadi dalam hidup kita. Menaklukkan ketidak-percayaan dilakukan dengan bersungguh-sungguh merenungkan dan mempraktekkan firman Tuhan tanpa ragu. Dalam kepatuhan dan tindakan maka di situlah kita akan mulai menemukan betapa hebat kemampuan Allah yang bisa lakukan apa saja di dalam kita.

4.A.5. Berkomitmen dalam melakukan visi Tuhan akan memampukan kita melompati keterbatasan alamiah kita. Bila ketidak-percayaan akan menghambat visi Tuhan, sebaliknya dengan berkomitmen penuh pada visi Tuhan maka semua tantangan akan dapat dilalui oleh kuasa Yesus.


5. Para Orang Tua adalah Kelompok yang Mewakili Roh Ketakutan

Orang-orang Yahudi bertanya kepada sang orang tua di Yohanes 9 : 19-20 Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” 20 Jawab orang tua itu: ”Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta.” Lebih lanjut lagi pada ayat ke 22-23 dikatakan “Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. 23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri."


Orang tua dari orang buta yang disembuhkan Yesus takut akan orang-orang Yahudi, sebab masalah ini bisa mengakibatkan mereka dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari tempat ibadah. Dalam ketakutan mereka ini lalu mereka menjauhkan diri dari mujizat yang dialami anaknya. Para orang tua di sini mewakili apa yang kita kenal sebagai roh ketakutan. Kita bisa mendapati orang-orang yang takut di sekitar kita, mereka takut kalau-kalau visi Tuhan pada kita membawa dampak buruk pada kehidupan mereka.


5.A. Orang yang dipenuhi roh ketakutan hanya digerakkan oleh apa yang mereka tahu, dan mereka tidak bisa melihat rencana dan tujuan Allah. Banyak orang dibutakan dengan apa yang mereka pikir mereka tahu. Mereka begitu dikuasai oleh pemikiran mereka sendiri sehingga mereka tidak bisa melihat apa sebenarnya rencana dan tujuan Allah. Firman Allah sebenarnya penuh dengan kebenaran untuk memerdekakan kehidupan orang-orang seperti ini. Alkitab katakan pengetahuan akan kebenaran itulah yang akan memerdekakan semua orang yang percaya. Seorang pemimpin visioner perlu mengidentifikasi roh ketakutan di sekitarnya dan menaklukkannya.

5.B. Visi Tuhan yang kita pegang harus dibangun dengan kebenaran hidup. Apa yang kita perlukan untuk mulai memenuhi setiap panggilan Allah sudah tertulis di Alkitab, yaitu agar kita memulainya dengan hidup dalam kebenaran. Kita harus mengetahui kebenaran itu, melakukannya, dan mengijinkan kebenaran itu digunakan sebagai fondasi untuk membangun visi Tuhan dalam hidup kita. Dalam kebenaran hidup maka tidak ada lagi roh ketakutan yang bisa mempengaruhi seorang pemimpin visioner.


Penutup

Marilah kita menjadi pemimpin yang hidup sesuai dengan panggilan Allah. Kita perlu bangkit dan memenuhi visi yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita. Pemimpin visioner harus waspadai perangkap-perangkap yang bisa diciptakan oleh sekelilingnya. Ia harus dapat menaklukkannya dan hidup dalam penggenapan panggilannya yang ajaib.



Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Bagaimana caranya kita mengatasi roh keakraban dari orang-orang di sekeliling kita?


2. Bercerminlah dari 5 kelompok roh yang telah dipelajari. Manakah kelompok roh yang sekarang sedang ada dalam kehidupan anda? Jelaskan.