Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Mengembangkan Kepemimpinan Sesi 4 dari 5



Topik : Pemimpin Harus Mempengaruhi dan Bukan Dipengaruhi

Bagian 1: Daftar Ayat Renungan


Matius 20 : 25-28 “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. (26) Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, (27) dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; (28) sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."”


1 Petrus 5 : 2 “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”


Ibrani 13 : 7 “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.”


Pendahuluan


Bagian 2: Topik Kuliah.


1. Menjadi Seorang Pemimpin Sesuai Teladan Yesus

Matius 20 : 20-28 “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. (21) Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (22) Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Si ibu pada ayat-ayat tersebut berpikir untuk menempatkan anak-anaknya di posisi terhormat bersama dengan Yesus. Tetapi Yesus mengajar kepada murid-muridNya bahwa setiap pemimpin dalam Kerajaan Allah harus bersedia membayar harganya.


1.A. Memimpin adalah menjadi pelayan. Yesus lalu mengajar lebih lanjut di Matius 20 : 25-28 tentang beberapa hal:

1.A.1. Pemimpin dalam Kerajaan Allah tidak memimpin dengan pola yang sama seperti pemimpin-pemimpin di dunia. Matius 20 : 25 “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.”

1.A.2. Pemimpin terbesar di Kerajaan Allah adalah pelayan. Matius 20 : 26-27 “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, (27) dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;” Pada ayat-ayat ini Yesus tidak mengajarkan bahwa kita tidak bisa menjadi besar. Justru di sini Yesus mengajar agar kita menjadi besar. Tetapi satu-satunya cara kita menjadi besar adalah kalau kita mau menjadi yang ter-rendah, yakni menjadi pelayan.

1.A.3. Yesus telah memberikan diriNya sebagai panutan. Matius 20 : 28 “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."” Setiap pemimpin di Kerajaan Allah harus memiliki Yesus sebagai penutan pribadi masing-masing.


1.B. Yesus mengijinkan murid-muridNya melayani Dia. Meskipun Yesus adalah model pemimpin yang melayani murid-muridNya, tetapi Ia juga memberikan diriNya untuk dilayani mereka supaya para murid juga dapat dibentuk menjadi pemimpin penerusNya. Berikut adalah beberapa contoh Yesus mengijinkan murid-muridNya melayani Dia:

1.B.1. Di Matius pasal 21 Yesus meminta murid-muridNya untuk segera mengambil seekor keledai untuk ditunggangiNya.

1.B.2. Pada saat Yesus menyeberangi danau di atas perahu Alkitab tidak mengatakan Yesus yang mendayung perahu itu, melainkan murid-muridNya yang melakukannya. Bahkan Yesus tertidur di dalam perahu.

1.B.3. Saat Yesus memberi makan 5000 orang murid-muridNya-lah yang membagikan roti dan ikan tersebut.

1.B.4. Saat menjelang perjamuan terakhir, murid-murid-lah yang mempersiapkannya, bukan Yesus.

1.B.5. Lukas 8 : 1-3 menulis tentang ada perempuan-perempuan yang melayani Yesus.


1.C. Yesus melayani bukan untuk generasiNya saja, tetapi untuk seluruh generasi. Yesus adalah seorang pemimpin yang merelakan hidupNya bagi semua orang. Tetapi dengan mengijinkan murid-muridNya melayani Dia, maka Yesus juga sedang membangkitkan generasi pemimpin-pemimpin yang baru di antara mereka. Pelayanan Yesus juga menjadi sangat efektif pada saat murid-muridNya turut melayani Dia dalam melaksanakan tugas dari Bapa.


1.D. Kita sebagai pemimpin juga harus membangkitkan pemimpin-pemimpin baru dengan mengijinkan mereka melayani bersama-sama dengan kita. Memimpin dalam arti ini adalah memberikan kesempatan bagi orang-orang lain untuk mengikuti kita dan melayani kita. Untuk memahami ini, kita tidak dapat tenggelam pada mentalitas seorang pelayan yang salah, berpikir bahwa melayani itu harus terus menerus berada pada posisi untuk menyenangkan hati semua orang di sekeliling kita.

1.D.1. Pemimpin yang baik tidak selalu membuat murid-muridnya merasa nyaman karena ia bukan ada untuk menyenangkan para muridnya, melainkan untuk menyenangkan Tuhan.

1.D.2. Pemimpin yang baik harus berani mengusik kenyamanan murid-muridnya tanpa lupa untuk terus menuntun para murid dalam tantangan hidup mereka.

1.D.3. Pemimpin yang baik harus mengembangkan setiap potensi dari para murid-muridnya pada titik terjauh tanpa mematahkan semangat mereka.



2. Melayani itu adalah Menjadi Pengawas yang Memberi Teladan


2.A. Memimpin juga artinya menjadi Pengawas. 1 Petrus 5 : 2 “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” Dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris, kata pertama bisa dipahami agar kita menggembalakan kawanan domba Allah sebagai ”overseer” atau pengawas. Banyak orang berpikir melayani dan mengawasi itu bertentangan. Mereka berpikir melayani itu artinya kita hanya menjadi orang yang diawasi terus menerus. Tetapi menurut 1 Petrus 5 : 2 kita melayani Tuhan juga dalam kapasitas seorang pengawas. Menjadi seorang pengawas mengharuskan kita untuk tidak lagi tenggelam dalam konsep pemikiran seorang pelayan yang selalu menjadi ekor.

2.B. Pengawas yang benar memberi teladan. Dalam hal ini kita menjadi seorang pengawas bukan dengan cara mendominasi, memanipulasi, atau menggunakan kekerasan. Para pemimpin yang cenderung mengintimidasi murid-muridnya biasanya memiliki rasa ketidak-amanan pada posisinya, ia khawatir posisinya akan tergantikan. Sebaliknya menjadi pengawas yang efektif adalah mereka yang memimpin dengan menjadi panutan bagi orang lain. Panutan yang dimaksud di sini adalah menjadi model dalam seluruh aspek kehidupannya sehingga mereka yang dipimpinnya rindu untuk menjadi seperti si pemimpin.

2.C. Teladan yang dituntut oleh seorang pemimpin. 1 Timotius 4 : 12 “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” Rasul Paulus menasihatkan agar Timotius menjadi teladan dalam segenap kehidupannya. Menjadi teladan dalam perkataan artinya kita meneladani bagaimana seseorang harusnya bercakap-cakap. Ini bukan bicara tentang cara kita mengajar atau berkhotbah. Tetapi ini menekankan bagaimana cara kita berbicara kepada siapapun. Menjadi teladan dalam tingkah laku artinya orang-orang dapat belajar dari bagaimana tindakan-tindakan kita dalam hidup ini. Menjadi teladan dalam kasih adalah bagaimana kita mengajar orang lain mempraktekkan kasih tanpa syarat. Menjadi teladan dalam kesetiaan artinya bagaimana kita tidak pernah berubah setia kepada Tuhan dalam saat-saat tersulit atau dalam godaan. Menjadi teladan dalam kesucian artinya memberikan contoh bagaimana kita memisahkan diri kita dari pengaruh dunia.


2.D. Setiap pemimpin harus mengalami kemajuan kerohanian senantiasa. 1 Timotius 4:15 “Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.” Kita harus selalu bercermin apakah kita terus menerus membuktikan kemajuan kehidupan rohani kita yang bisa disaksikan oleh orang-orang. Seorang pemimpin yang tidak mengalami kemajuan akan menjadi penghalang bagi murid-muridnya dalam belajar, karena mereka tidak lagi memiliki panutan yang mendukungnya untuk bertumbuh lebih lanjut.


3. Pemimpin yang Benar Meneladani Imannya


3.A. Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk memiliki iman yang dapat dicontoh. Ibrani 3 : 7 “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” Ayat ini menekankan bagaimana setiap orang percaya seharusnya dapat meneladani iman dari para pemimpin mereka. Ini adalah tanggung jawab setiap pemimpin di Kerajaan Allah, yang berarti karena semua pengajaran dan khotbah mereka itu harus ditindak-lanjuti dengan ekspresi iman yang nyata yang dapat dicontoh orang-orang.

3.B. Iman seorang pemimpin akan terlihat pada akhir hidupnya. Ibrani 3 : 7 juga memberikan penekanan bagaimana para pemimpin bisa dicontoh hingga akhir hidup mereka. Semua yang mereka ajarkan dan khotbahkan harusnya memberikan dampak yang permanen hingga akhir hayat mereka.

3.C. Pemimpin itu bukan tentang titel atau gelar. Kita bukan menjadi seorang pemimpin karena gelarnya diberikan oleh manusia, karena otoritas seorang pemimpin di Kerajaan Allah bukan berasal dari manusia. Tetapi otoritas seorang pemimpin datangnya dari Allah, dan kredibilitasnya berasal dari bagaimana ia dapat menjadi teladan sesuai dengan ajaran Kristus.


4. Pemimpin yang Benar tidak Dipengaruhi oleh Pemikiran Orang Banyak

Ada seorang nabi bernama Amos. Di Amos pasal 7, di situ dikisahkan bahwa suatu saat seorang Imam bernama Amazia di Betel marah kepada Amos karena Amos bernubuat di hadapan Raja Yerobeam, dan menyuruh Amos untuk kembali ke tempat asalnya. Tapi dengan rendah hati Amos menjawab di Amos 7 : 14 “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan.” Di sini Amos tidak menganggap dirinya sebagai seorang yang terhormat seperti layaknya seorang nabi. Ia hanya seorang peternak biasa. Tetapi Allah memberikan pesanNya melalui perkataan Amos sehingga bukan saja ternaknya, tetapi seluruh bangsa Israel perlu mengikuti dia. Berarti sebagai seorang pemimpin Amos memiliki sesuatu yang membuat orang-orang perlu mengikutinya. Tetapi kita terkadang mendapati masih ada pemimpin-pemimpin di Kerajaan Allah yang bukannya memimpin dengan membawa pengaruh, teapi malah terpengaruh oleh pendapat orang banyak.


4.A. Karakteristik pemikiran orang banyak. Berikut kita akan pelajari adalah beberapa contoh dari Perjanjian Baru tentang bagaimana karakteristik-karakteristik pemikiran orang-orang banyak itu:

4.A.1. Pemikiran orang banyak dipengaruhi oleh laporan-laporan yang menjerumuskan. Di Lukas 8 : 26-39 Yesus mengusir roh jahat dari seseorang di Gerasa, di mana Yesus mengijinkan roh-roh jahat itu masuk ke kawanan babi. Tetapi atas laporan dari para penjaga babi, maka sesudah itu seluruh penduduk daerah Gerasa minta agar Yesus meninggalkan tempat itu padahal Yesus baru saja memulihkan orang yang dirasuki setan sekian lamanya. Di sini kita belajar bahwa pemikiran seluruh penduduk di Gerasa cepat sekali terpengaruh oleh sebuah laporan tanpa memahami lebih lanjut tentang apa sebenarnya yang terjadi.

4.A.2. Pemikiran orang banyak memiliki mental ternak. Para penjaga dan penduduk di Gerasa sudah terlalu lama ada di tengah-tengah ternak mereka, dan mengikuti pola pikir ternak mereka. Seekor ternak biasanya mengikuti perilaku ternak lainnya tanpa alasan. Alkitab mengajar bahwa pergaulan kita kana mengubah kita menjadi serupa dengan orang-orang di sekitar kita (1 Korintus 15 : 33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”) Demikian juga para penduduk di Gerasa semuanya mengikuti pemikiran sesamanya sehingga mereka bersepakat untuk meminta Yesus keluar dari situ.

4.A.3. Pemikiran orang banyak itu mudah berubah-ubah. Sementara penduduk Gerasa mengusir Yesus, di ayat ke 40 dikatakan ada orang banyak yang menyambut Yesus setelah Ia menyeberangi danau. Berarti di satu sisi danau mereka mengusir Yesus, dan di sisi lainnya mereka menyambut Yesus. Begitulah pola pemikiran orang banyak, dalam satu saat mereka mendukung, dalam saat lainnya mereka bisa menentang.

4.A.4. Pemikiran orang banyak sering membuat keputusan buruk. Di Matius pasal 27 saat Yesus ditangkap dan dihadapkan kepada Pilatus, orang-orang diberikan pilihan untuk membebaskan Yesus atau seorang penjahat terkenal bernama Barabas. Tanpa mempertimbangkan masak-masak maka seluruh orang memutuskan untuk membebaskan Barabas. Lebih lagi di Matius 27 : 22 Pilatus menanyakan kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" Keputusan Yesus untuk disalibkan itu diambil oleh orang banyak tanpa berpikir panjang.

4.A.5. Pemikiran orang banyak umumnya tidak mau ambil resiko. Rasul Petrus adalah satu-satunya orang yang pernah berjalan di atas air karena ia bersedia mengambil resiko. Murid-murid lainnya memutuskan untuk tetap tinggal di kapal dan menolak mengambil resiko yang sama.


4.B. Seorang pemimpin harus bangkit dari pengaruh pemikiran orang banyak. Kita sudah pelajari bahwa pandangan pemikiran orang banyak itu bukanlah sesuatu yang dapat diandalkan. Oleh seba itulah setiap pemimpin hanya boleh dipengaruhi oleh satu hal saja, yaitu panggilan Tuhan dalam hidupnya. Hanya dengan demikianlah maka pengaruh eksternal tidak lagi dapat menggoyahkan dia. Ia bahkan bisa menjadi teladan yang tidak segan-segan mendorong para pengikutnya untuk supaya keluar dari zona nyaman mereka semua sehingga mereka pun juga dapat diubahkan menjadi generasi pemimpin selanjutnya.


Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Jelaskan kembali bagaimana caranya seorang pemimpin yang benar mengijinkan orang-orang melayani dia sementara dia melayani Tuhan? 2. Bagaimanakan seorang pemimpin memberikan teladan imannya?


3. Pernahkan anda juga terpengaruh oleh pemikiran orang banyak? Jelaskan bagaimana itu berakhir?