Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Mental Padang Gurun Sesi 7 dari 7


Topik: Iri Hati dan Keras Kepala.

Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.


Amsal 14 : 30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”


Yohanes 21 : 21 “Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?’ 22 Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.’"


Yakobus 4 : 1-2 “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? 2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.”


1 Samuel 15 : 22-23 “Tetapi jawab Samuel: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.’"


Bagian 2: Topik Kuliah


1. Mental Padang Gurun Nomor 9: ”Cemburu, Iri Hati, Membandingkan Diri, dan Perselisihan.”


1.A. Iri hati dan cemburu membuat kita berperilaku buruk. Amsal 14 : 30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”Banyak bahkan anak Tuhan masih memiliki mental padang gurun ini. Mereka bahkan saling iri akan karunia-karunia yang Tuhan berikan kepada orang lain. Seharusnya kita sadar bahwa Tuhan memiliki rencana yang unik dan pribadi bagi setiap anakNya. Bahkan kita seharusnya belajar bahwa Tuhan menganugerahkan karunia kepada orang lain agar kita dapat menikmatinya.

1.B. Contoh kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Kisah 7 : 9 “Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia.” Saudara-saudara Yusuf begitu iri dan benci pada Yusuf sehingga mereka menjual Yusuf sebagai budak. Kita perlu periksa diri kita, apakah kita memiliki iri hati kepada seseorang? Apakah kita bisa bersuka cita saat orang lain diberkati?

1.C. Iri hati dan cemburu menunjukkan tingkat kedewasaan rohani kita. Definisi kata iri hati adalah perasaan tidak senang saat melihat kelebihan orang lain. Definisi kata cemburu adalah rasa takut kehilangan sesuatu yang bisa diambil orang lain. Sebagai orang pilihan Tuhan, kita perlu menolak pengaruh iri hati dan cemburu dalam hidup kita. Bila kita masih iri hati dan cemburu maka ini akan mengambil kemampuan kita untuk mengasihi satu dengan lainnya.

1.D. Murid-murid Yesus juga memiliki masalah iri hati dan cemburu. Yohanes 21 : 21 “Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?’ 22 Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.’" Sebelum kisah ini terjadi, di ayat-ayat sebelumnya kita bisa membaca bagaimana Petrus menjawab Yesus tiga kali saat ditanya Yesus “apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Yesus bertanya tiga kali untuk mempersiapkan Petrus bahwa di masa depan ia akan mengalami penderitaan, dan bahkan mati dengan cara yang kurang menyenangkan. Setelah pernyataan Yesus kepada Petrus, lalu Petrus segera berpaling dan bertanya kepada Yesus tentang Yohanes. Kemungkinan besar Petrus memiliki masalah dengan kepribadian Yohanes. Antara Petrus dan Yohanes mereka berdua memiliki kepribadian yang sangat berbeda, dan Petrus ingin membandingkan dirinya dengan Yohanes. Dengan cara yang serupa kita juga suka membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita seringkali bertanya kepada Tuhan mengapa saya harus melalui suatu penderitaan sedangkan orang lainnya tidak? Mengapa mereka makmur dan saya tidak? Mengapa orang lain diberkati dan saya tidak?

1.E. Cara mengalahkan iri hati dan cemburu. Sebagai anak Tuhan, cara terbaik untuk mengalahkan perasaan iri hati dan cemburu adalah memiliki keyakinan bahwa Tuhan sudah memiliki rancangan yang unik dan sangat pribadi kepada setiap dari kita anakNya. Di samping itu, Tuhan memproses setiap dari kita dalam rentang waktu yang berbeda. Tuhan juga menganugerahkan karunia yang berbeda-beda kepada setiap anakNya. Kita perlu merasa puas dengan apa yang Tuhan sudah rancangkan kepada kita. Setiap karunia itu datangnya dari sorga semata-mata. Yohanes 3 : 27 “Jawab Yohanes: "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.”

1.F. Jangan saling membandingkan, tetapi fokus pada rancangan Tuhan bagi kita dahulu. Yohanes 21 : 22 “Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.’" Di sini Yesus menegur Petrus agar ia fokus saja pada panggilan dia sendiri, dan tidak perlu urus bagaimana tentang panggilan Yohanes. Yang terpenting bagi Petrus lakukan adalah ikut Yesus sebagaimana Yesus mau.

1.G. Perselisihan masih menjadi problem dalam gereja. Yakobus 4 : 1-2 “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? 2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Di dalam gereja masih banyak orang yang iri dan cemburu kepada pemimpin gereja atau para pengerja, mereka mempertanyakan mengapa bukan mereka yang dipilih. Yesus menciptakan kita untuk membawa damai, bukan untuk bertengkar. Firman di atas mengajar bila kita mengingini sesuatu, maka kita tidak akan mendapatkannya bila kita saling iri hati dan bertengkar. Tuhan tidak akan bergerak lebih jauh dalam hidup kita sampai kita berhenti memiliki mental padang gurun ini.

1.H. Perselisihan merusak gereja. Ibrani 12 : 15 “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Di gereja seharusnya kita saling memperhatikan. Bila ada anggota gereja yang berbicara negatif tentang sesama jemaat maka kita perlu segera memadamkannya dengan berbicara positif tentang orang dimaksud. Bila kita tidak membantu memadamkannya, maka ini akan menjadi penyakit yang segera menjalar. Galatia 5 : 15 “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.” Ayat ini membuktikan bahwa gereja bisa hancur oleh karena perselisihan. Ini berlawanan dengan kuasa dari kesepakatan yang tertulis di Matius 18 : 19 “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” Kita perlu sepakat dalam segala hal demi doa dan permintaan kita dikabulkan. Kita tidak bisa berselisih dahulu, dan lalu berdoa sepakat kemudian. Doa seperti ini tidak akan memiliki kuasa.

1.I. Rendahkan diri kita dalam perselisihan. Bila kita terlibat dalam suatu perselisihan, maka sebagai orang percaya kita diperintahkan untuk merendahkan diri kita. 2 Timotis 2 : 23-24a “Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, 24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.” Dengan merendahkan diri maka kita dapat memadamkan perselisihan dan berfokus pada kegiatan yang membangun.


2. Mental Padang Gurun Nomor 10: “Saya Akan Melakukannya dengan Caraku Sendiri, atau Tidak Sama Sekali.”


2.A. Ini adalah sikap keras kepala dan pemberontakan. Kita perlu menjadi segumpal tanah liat yang lembut yang mudah dibentuk oleh Tuhan. Tetapi orang yang keras kepala adalah mereka sulit diatur atau yang sulit diajak bekerja sama. Orang yang memberontak adalah mereka yang melawan peraturan atau melawan koreksi.

2.B. Contoh Saul. Banyak orang yang dipanggil sebagai pemimpin tetapi mereka menolak dibentuk, seperti Saul.

2.B.1. Saul diberikan instruksi oleh Nabi Samuel. 1 Samuel 10 : 8 “Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan.” Ayat di atas merupakan suatu instruksi dari Nabi Samuel kepada Raja Saul, agar Saul menunggu tujuh hari hingga Nabi Samuel datang untuk mempersembahkan korban bakan dan korban keselamatan.

2.B.2. Saul melanggar perintah karena takut akan rakyat. 1 Samuel 13 : 8-9 “Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia. 9 Sebab itu Saul berkata: "Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu." Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.” Pada saat ini Raja Saul takut akan rakyat yang mau meninggalkan dia. Lalu ia memaksakan diri untuk mempersembahkan korban bakaran berpikir bahwa Samuel tidak akan datang. Ia tahu ia tidak seharusnya melakukan ini, karena ini bukan tugasnya Saul. Saul lebih takut kepada rakyatnya daripada kepada Tuhan. Dan Samuel pun datang tepat sesudah Saul mempersembahkan korban bakaran sesuai instruksi. 1 Samuel 13 : 10 “Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya.”

2.B.3. Saul berdalih bahwa pikirannya membenarkannya. 1 Samuel 13 : 11-12 “Tetapi kata Samuel: "Apa yang telah kauperbuat?" Jawab Saul: "Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, 12 maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran." Dari ayat ini kita mendengar alasan Saul bahwa dia “berpikir.” Sesungguhnya saat Tuhan memberikan perintah maka pikiran kita itu tidak sepenting daripada perintahnya Tuhan. Masalah kita adalah terkadang saat diperintahkan Tuhan kita berhenti sejenak memikirkan perasaan kita atau kemauan kita sendiri dahulu. Ini bukanlah hal yang Tuhan mau kita lakukan. Dalam perintah Tuhan kita hanya perlu mematuhinya dengan setia saja.

2.B.4. Saul memberontak lebih jauh dalam ketidak-patuhan. Di 1 Samuel 15 : 1-23 dikisahkan bahwa Tuhan memerintahkan Saul untuk membinasakan seluruh orang Amalek: “Bunuhlah laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.’" Tetapi kemudian di 1 Samuel 15 : 8-9 dikatakan, “Ditangkapnya Agag, raja orang Amalek, hidup-hidup, dan seluruh rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. 9 Tetapi Saul dan rakyatnya merasa kasihan terhadap Agag, dan kepada kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik serta tambun, atas anak-anak domba, dan atas semua yang berharga. Mereka tidak mau menumpas semuanya itu, tetapi hewan yang tidak berharga dan buruk ditumpasnya.” Di sini Saul melakukan apa yang ia mau lakukan, bukan lagi apa yang Tuhan kehendaki ia lakukan. Tindakan Saul membuat Tuhan menyesal yang dikatakan di 1 Samuel 15 : 10-11 “Datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian, 11 "Aku menyesal karena telah menjadikan Saul sebagai raja, sebab ia telah berbalik dari pada-Ku dan firman-Ku tidak dipegangnya teguh." Samuel pun menjadi sakit hati dan ia berseru-seru kepada TUHAN sepanjang malam.” Dari kisah Samuel ini kita belajar jangan sampai Tuhan menyesal bahwa Ia telah memanggil kita dan memerintahkan kita melakukan kehendakNya.

2.B.5. Saul beroperasi dalam roh kesombongan yang adalah pemberontakan. 1 Samuel 15 : 12 “Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal." Ayat ini lebih lanjut menjelaskan bahwa selama ini Saul memiliki roh kesombongan, di mana ia lantas membangun monumen bagi dirinya sendiri di Karmel. Kesombongan dari Saul membuatnya memberontak terhadap perintah Tuhan melalui Nabi Samuel. Saat ia lalu bertemu Samuel yang mempertanyakan mengapa kambing domba orang Amalek diselamatkan, maka Saul berupaya menampilkan dirinya bijak karena ia berkata di 1 Samuel 15 : 15 "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."

2.B.6. Hukuman bagi Saul. 1 Samuel 15 : 22-23 “Tetapi jawab Samuel: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.’" Pendurhakaan di sini diterjemahkan dari kata pemberontakan, dan kedegilan diterjemahkan dari kata keras kepala. Dengan demikian pemberontakan dan keras kepala adalah sikap yang ditentang oleh Tuhan itu sendiri. Penting digaris bawahi disini bahwa mungkin bagi Saul pemberontakan dan keras kepalanya adalah hal sepele yang tidak terlalu besar sehingga menyebabkannya dihukum.


Penutup Kita sudah mempelajari kesepuluh mental padang gurun. Pada kesimpulannya kita harus memahami pentingnya untuk menjadi orang percaya yang mematuhi seluruh perintah Tuhan. Pengkhotbah 12 : 13-14 “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. 14 Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” Pada saat kita mulai mematuhi perintah-perintah Tuhan maka karakter kita akan mulai bertumbuh. Dan karakter kita ini akan bertumbuh lebih pesat lagi bila kita tetap patuh meskipun perasaan kita ingin menolak perintahNya. Setiap langkah dalam kepatuhan adalah langkah yang membawa kita keluar dari padang gurun menuju ke tanah perjanjian.



Bagian 3: Diskusi kelompok

1. Jelaskan kembali bagaimana cara kita menanggulangi rasa iri hati atau cemburu?

2. Bagaimana cara anda meredam perselisihan yang ada di gereja anda dengan merendahkan hati?


3. Menurut anda mengapa orang yang keras kepala biasanya menyepelekan keras kepalanya?