Program harvest international curriculum


Trimester 4


Mental Padang Gurun Sesi 3 dari 7



Topik sesi 3 : Mengerutu, Mencela, dan Mengeluh


Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan

Roma 12 : 12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”


1 Petrus 5 : 8-10 “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. (10) Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.”

Filipi 4 : 11 “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Ayat (12) Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.



Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Pengajaran ini lanjutan dari sesi sebelumnya tentang mengapa bangsa Israel menghabiskan perjalanan waktu selama 40 tahun untuk perjalanan yang bisa ditempuh hanya selama 11 hari saja. Kita sedang membahas ada 10 sikap mental padang gurun, dan di sesi ini kita akan membahas mental padang gurun ke-empat, yaitu tentang menggerutu, mencela, dan mengeluh.


1. Mental Padang Gurun Nomor 4: “Mengerutu, Mencela, dan Mengeluh”

1.A. Tuhan menunggu saat kita dapat memuliakan Tuhan dalam penderitaan.


1.A.1. Kita harus belajar memberikan korban pujian kepada Tuhan saat menderita. 1 Petrus 2 : 19-21 “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. (21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Memang konsep ini sulit dimengerti, yaitu mengapa Tuhan mau kita menderita. Tetapi yang kita harus pahami adalah bukan penderitaan kita yang memuliakan Tuhan, tetapi sikap yang benar dalam penderitaan itulah yang memuliakanNya. Yesus telah mengalami banyak hal yang sebenarnya Ia tidak tidak patut terima, tetapi Ia melewati semuanya itu dengan sikap yang benar. Bangsa Israel tinggal dipadang gurun selama 40 tahun karena mereka tidak pernah berhenti mengerutu. Mereka juga tidak sabar. Mereka tidak mau belajar memiliki sikap yang benar. Ada begitu banyak orang Kristen yang masih belum bisa memahami konsep ini.


1.A.2 Yesus menderita dengan cara yang mulia. Yesus menderita tanpa mengeluh. Ia percaya kepada Bapa bagaimanapun keadaanNya. Ia menguasai mulutNya dalam masa-masa yang sulit, yang artinya Ia menderita dengan berdiam. Kita pun juga harus belajar menutup mulut dan tidak mengeluh dalam penderitaan. Hindari berbicara terlalu banyak tentang masalah kita sedang alami. Lebih baik kita berbicara banyak mengenai apa yang Tuhan dapat lakukan dari pada apa yang Iblis telah lakukan. Yesaya 53 : 7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Pengertiannya dari ayat ini adalah saat Yesus menghadapi berbagai masalah yang begitu besar Ia tidak membuka mulutNya. Yesus mengerti kuasa orang yang berdiam. Ia tahu persis bila Ia mengatakan kata yang salah dalam waktu yang salah maka itu dapat merusak rencana keselamatan. Jadi lebih baik Ia menutup mulutNya dari pada mengatakan yang salah. Saat kita melakukan hal yang benar pada masa yang sulit, ini akan membangun karakter kita. Ini yang mendewasakan kita di dalam Tuhan. Jika kita tidak bisa mengatakan perkataan yang baik, jauh lebih baik bila kita berdiam saja. Yohanes 14 : 30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.” Yesus tahu Ia akan menghadapi masa masa sulit saat Ia disalibkan. Ia tahu ada cobaan yang harus dilaluiNya. Mungkin Yesus sadar bahwa ia bisa saja tergoda untuk mengeluarkan perkataan yang salah. Oleh karena itu Ia berkata dulu kepada murid-muridnya bahwa sejak saat itu Ia tidak akan banyak lagi berkata-kata. Ia harus memastikan untuk menjaga perkataanNya supaya Ia tidak dipakai oleh iblis. Kita harus mengerti ini karena perkataan yang salah itu sama dengan memberikan kuasa kepada iblis. Ams 18 : 21 “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”


1.B. Bagaimana kita mempercayakan hidup kepada Tuhan membangun stabilitas rohani kita. Banyak dari kita memiliki berbagai kemampuan yang Tuhan anugerahkan. Tetapi semua kemampuan itu tidak dapat dibangun kalau kita tidak terlebih dahulu membangun kerohanian stabil yang penuh pengendalian diri. Banyak orang dipanggil untuk memimpin. Tetapi Tuhan akan mengajar orang tersebut dahulu selama bertahun-tahun untuk memastikan dia memiliki kestabilan rohani sebelum dipercayakan dan dipromosikan olehNya sebagai seorang pemimpin. Kestabilan rohani dimulai dari bagaimana kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya ke dalam tangan pemeliharaan Tuhan. 1 Petrus 4 : 19 Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” Bila kita pergi ke bank dan menitipkan uang kita untuk disimpan oleh bank, kita melakukannya dengan rasa percaya. Demikian juga dengan kita dan Tuhan. Setiap pagi kita berdoa kita memberikan hidup kita kepada Tuhan. Setelah itu kita harus percayakan apapun yang terjadi kepada Tuhan yang memegang kendali. Kita percaya bahwa Tuhan sendiri dapat menyelesaikan masalah masalah kita


1.C. Belajar menderita dengan sikap benar. Roma 12 : 12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Ayat ini mengajar kita untuk dapat beradaptasi pada sekeliling kita meskipun kita ada dalam suatu penderitaan. Bila kita tidak beradaptasi dan menyesuaikan diri kita di tengah penderitaan, maka kita cenderung akan selalu menunjukkan kekesalan kita kepada orang-orang disekitar kita.


1.D. Jangan mencela orang lain, karena Tuhan ciptakan mulut kita untuk mengucap syukur. Filipi 4 : 6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Mulut kita tidak dirancang Tuhan untuk menggerutu dan bersungut-sungut, apa lagi untuk mencela orang lain. Tuhan mau agar kita pergunakan ucapan mulut ini kita kita untuk saling membangun satu dengan yang lain. Sebaliknya kita nyatakan semua hal dalam doa dengan bersyukur kepada Tuhan. Ingat bahwa Tuhan akan terus memproses sikap kita sebelum Ia memberkati kita. Ia juga mau agar kita belajar, bahwa sebelum kita meminta sesuatu dari Tuhan kita harus sudah menyadari banyak hal yang kita sudah miliki yang membuat kita dapat mengucap syukur dalam segala hal.


1.E. Mengeluh itu artinya kita sedang komplain kepada Tuhan. Filipi 2 : 14-15 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, (15) supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Pada saat minta Tuhan pegang kendali hidup kita, mempercayakan seluruh hidup kita dalam tanganNya. Tetapi beberapa saat kemudian kita tidak menyukai apa yang Tuhan lakukan kepada kita. Ayat ke 15 di atas menasihati agar kita tidak bersungut-sungut, supaya kita tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini. Dengan tidak mengeluh maka kita bisa bercahaya seperti bintang-bintang di dunia. Janganlah kita meniru orang-orang dunia yang lekas mengeluh. Firman Tuhan mengajar bahwa kita itu seperti sebuah buku yang dibaca orang lain. Ijinkan orang lain membaca kita saat kita sedang menghadapi masalah dalam pendampingan Tuhan. Firman lebih lanjut juga mengajar bahwa kita akan dikenali orang lain dari buah-buah kita.


1.F. Menggerutu akan membinasakan kita. 1 Korintus 10 : 9-11 “Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.(10) Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut. (11) Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Daripada bersungut-sungut, kita perlu menceritakan kebaikan Tuhan dengan mulut kita. Banyak orang Israel mati dipagut ular karena bersungut-sungut. Bahkan di ayat 10 dikatakan janganlah bersungut sungut karena mereka bisa dibinasakan oleh malaikat maut. Sesungguhnya tanpa kita sadari lebih banyak lagi masalah-masalah yang timbul saat kita menggerutu. Sikap ini pastinya memperburuk masalah yang sudah ada.


1.G. Melawan tipu daya iblis dengan bertekun dalam penderitaan. 1 Petrus 5 : 8-10 “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. (10) Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” Melawan iblis bukan berarti kita menolak ujian dari Tuhan. Kita tidak boleh menolak ujian Tuhan sama seperti kita tidak dapat menolak penderitaan. Sebaliknya kita harus menolak bersikap buruk di tengah ujiannya Tuhan. Saat kita bertekun dalam penderitaan maka Tuhan pasti membebaskan kita dari kesulitan-kesulitan hidup kita tersebut. Filipi 1 : 28 dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah.” Ayat ini mengajar bahwa bila kita bertekun dalam penderitaan maka ini sudah merupakan suatu tanda kekalahan bagi iblis yang berusaha merubah fokus dari Tuhan. Bila pandangan hidup kita tetap kepada Tuhan, maka Dia pasti menolong kita.



Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Jelaskan kembali mengapa menggerutu dan bersungut-sungut bukanlah karakteristik perilaku anak Tuhan? 2. Jelaskan mengapa dengan bertekun dalam penderitaan itu adalah tanda kekalahan iblis?