Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Mental Padang Gurun Sesi 2 dari 7



Topik Sesi 2: Mental Padang Gurun kedua dan ketiga.


Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

Yesaya 55 : 8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”


Yosua 1 : 2 Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”


Amsal 24 : 10 “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”


Wahyu 3 : 16 “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”



Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Kita sedang belajar tentang 10 jenis mental padang gurun. Mental padang gurun adalah cara berpikir dan tindakan yang salah yang akan membuat kita berputar-putar di padang gurun seperti bangsa Israel. Dalam sesi ini kita akan membahas mental padang gurun kedua dan ketiga.

1. Mental Padang Gurun Nomor 2: Biar Orang Lain Saja yang Melakukannya, Karena Saya Tidak Mau Memikul Tanggung Jawab Itu.

1.A. Masalah umum dalam lingkungan kita adalah tidak adanya orang yang mau pikul tanggung jawab. Bangsa Israel sedang mengalami tantangan besar, tetapi mereka tidak mau ambil tanggung jawabnya. Mereka cenderung menyalahkan Musa, atau bahkan Tuhan sendiri. Demikian juga dalam kehidupan yang sekarang, banyak orang tidak mau ambil tanggung jawab. Bahkan saat Tuhan mau berikan jalan keluar, orang-orang menolak untuk menghadapi tanggung jawabnya. Kita harus bertumbuh dewasa. Kalau kita seorang anak kecil, maka selalu harus ada seseorang yang merawat dan mengurus kita. Kita perlu bertumbuh dewasa dan memiliki karakter Yesus. Cara bertumbuh dewasa adalah dengan mulai memikul tanggung jawab.

1.B. Bangsa Israel tidak mau memikul tanggung jawab. Semua diserahkan kepada Musa. Musalah yang melakukan segala sesuatu bagi mereka. Hal ini mengakibatkan Bangsa Israel mengitari padang gurun selama 40 tahun menuju Tanah Perjanjian yang seharusnya bisa ditempuh dalam 11 hari perjalanan.

1.B.1. Arti kata tanggung jawab adalah kewajiban menanggung segala sesuatu. Contohnya, kita bertanggung jawab atas hutang-hutang kita. Kita juga bertanggung jawab atas setiap talenta yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita. Kita juga bertanggung jawab atas semua kewajiban hidup yang kita miliki.

1.B.2. Arti kata kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan. Misalnya, seorang yang berintegritas pastilah menyelesaikan semua kewajibannya sesuai dengan apa yang ia janjikan.

1.B.3. Orang dewasa bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban mereka. Orang yang dewasa yang bertanggung jawab selalu menyelesaikan kewajiban moral mereka. Kewajiban moral ini tidak berhubungan dengan perasaan mereka, apa yang mereka rasakan, dan yang mereka inginkan. Orang dewasa akan memenuhi kewajiban mereka dengan tanggung jawab tinggi, lepas dari perasaan mereka. Matius 22 : 14 “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." Ayat ini bisa ditafsirkan bahwa Tuhan memanggil banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mau memikul tanggung jawab panggilanNya.

1.B.4. Jangan lalaikan tanggung jawab. Kita harus meniru bagaimana semut menunaikan tanggung jawabnya dengan bijak. Amsal 6 : 6-8 “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Kita perlu menjadi orang-orang yang melakukan perkara yang benar, meskipun tidak ada orang yang memperhatikan kita, karena Tuhan selalu memperhatikan kita. Ada orang yang menikah, punya anak, tetapi kemudian tidak mau bertanggung jawab. Ada juga orang yang mau punya rumah besar, tetapi tidak mau bertanggung jawab untuk memeliharanya.

1.B.5. Bangsa Israel harus bangkit. Dalam Yosua 1 : 1-2 Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: ‘Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.” Di ayat ini, Tuhan mengingatkan Bangsa Israel untuk siap memikul tanggung jawab karena Musa sudah tidak ada. Inilah awal perubahan bagi Bangsa Israel, di mana mereka harus menyeberangi Sungai Yordan dan masuk ke Tanah Perjanjian.

1.C. Banyak orang tidak mau bertanggung jawab. Saat mereka menghadapi masalah, mereka memanggil orang lain untuk berdoa bagi mereka, menghibur mereka, bahkan membacakan Firman Tuhan bagi mereka. Hal ini sebenarnya baik, karena sebagai sesama manusia, kita harus saling menolong satu sama lain. Tetapi seharusnya ada hal-hal yang harus kita lakukan berdua saja dengan Tuhan, saat di mana kita dapat bertumbuh. Tuhan rindu supaya kita menjadi pohon yang besar dan berbuah kebenaran.

1.D. Bertanggung jawab berarti kita harus bersiap dan bangkit. Kata “bersiap” dalam Yosua 1 : 2 artinya adalah bangkit atau kebangkitan rohani dari kemalasan. Kata kemalasan artinya adalah letih lesu, pasif, suam-suam kuku, menunda. Banyak orang yang berada dalam keadaan seperti ini. Dalam Wahyu 3 : 16 dikatakan Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Kita harus selalu menyala-nyala dan janganlah menjadi pasif atau sering menunda-nunda.

1.E. Bertanggung jawab berarti kita melakukan kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Kita sering membuat rencana dan minta Tuhan memberkati rencana kita. Ini akan membuat kita terus berputar di padang gurun, tetapi kalau kita hidup dalam rencana Tuhan, kita pasti tiba di Tanah Perjanjian segera. Seperti dikatakan dalam Yesaya 55 : 8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”

1.F. Salah satu cara memikul tanggung jawab adalah dengan introspeksi diri. Periksa pikiran kita, hati kita, sikap kita, tindakan kita, emosi kita. Apabila kita benar-benar serius mengintrospeksi diri kita, maka kita akan mengetahui mengapa kita masih berputar-putar di padang gurun selama ini.

1.G. Bertanggung jawab karena kita mengerti bahwa kita sudah direncanakan untuk tinggal di Tanah Perjanjian. Kita tidak akan bahagia apabila kita terus berputar di padang gurun karena kita tidak diciptakan untuk tinggal di padang gurun.

1.H. Bertanggung jawab artinya tidak kita menyalahkan orang lain. Dalam kesaksian Joyce Meyer, seringkali ia menyalahkan suaminya untuk segala sesuatu. Bahkan ia berdoa meminta kepada Tuhan untuk mengubahkan suaminya. Tetapi Tuhan menjawab, bahwa masalah bukanlah terletak pada suaminya tetapi pada dirinya sendiri. Jadi janganlah kita menyalahkan orang lain oleh karena tindakan kita yang buruk. Kesaksian lain dari Joyce Meyer adalah bahwa saat beliau kecil, ia mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya selama bertahun-tahun. Tetapi sekarang, beliau dan suaminya tetap merawat ayah dan ibunya bahkan ia berjanji kepada Tuhan untuk merawat mereka dengan baik. Seringkali kita kecewa kepada orang lain, tetapi janganlah kita memakai kekecewaan itu sebagai alasan untuk memperlakukan mereka dengan tidak baik.

1.I. Bertanggung jawab artinya kita harus melakukan bagian kita. Dalam Yohanes 5 : 6-7 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Orang lumpuh ini memiliki mental mengasihani diri sendiri dan ia juga memiliki sikap bahwa orang lain harus melakukannya untuk dia. Ini adalah sikap mental yang salah. Kita harus melakukan bagian kita dan jangan menunggu orang lain yang melakukannya untuk kita.


2. Mental Padang Gurun Nomor 3: Selalu Mengharapkan Segala Sesuatu yang Mudah dan Tidak Bersedia Menerima Hal-hal yang Sulit.


2.A. Selalu mengatakan semuanya sulit untuk dilakukan. Orang seperti ini adalah orang yang sering mengeluh. Selalu ada alasan untuk mengatakan sulit. Ia mengatakan terlalu sulit untuk bisa tunduk kepada Tuhan, terlalu sulit untuk berubah, terlalu sulit untuk mengendalikan diri, terlalu sulit untuk membayar hutang, terlalu sulit untuk taat kepada Tuhan. Semuanya terasa sulit apabila kita menganggap setiap hal tersebut sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu kita harus membuat keputusan sekarang bahwa kita tidak akan mengucapkan lagi kata “terlalu sulit.”

2.B. Tuhan sengaja menuntun Bangsa Israel melalui jalan yang panjang. Keluaran 13 : 17 berkata “Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." Tuhan membiarkan Bangsa Israel melalui jalan yang panjang juga karena pada saat itu Tuhan tahu mereka belum siap untuk berperang. Tuhan tidak selalu menuntun kita ke jalan yang mudah atau pendek karena Tuhan ingin membentuk karakter kita. Kita banyak bertumbuh saat kita menghadapi jalan yang panjang dan sulit.

2.C. Jangan menunggu sampai siap. Kalau kita menunggu sampai kita merasa siap, maka kita tidak akan melakukan apa-apa. Bangsa Israel tidak siap untuk berperang tetapi Tuhan mengajar mereka cara berperang selama dalam perjalanan.

2.D. Setia kepada perkara kecil. Ulangan 8 : 1 "Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.” Penting bagi kita untuk melakukan hal-hal yang kecil yang Tuhan perintahkan kepada kita. Kita harus belajar untuk melakukan hal kecil sebelum melakukan hal yang besar. Seperti dikatakan dalam Lukas 16 : 10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

2.E. Mudah untuk berkata atau berkhotbah tetapi sulit untuk melakukannya. Kita harus melakukan segala hal yang kita khotbahkan. Hidup kita harus berpadanan dengan pesan yang kita sampaikan kepada orang lain. Memang lebih mudah untuk memberi nasihat kepada orang lain daripada kita sendiri yang melakukan, tetapi kita harus menjadi teladan.

2.F. Lakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Kita harus mengerti bahwa kehendak Tuhanlah yang jadi dan bukan kehendak kita. Tidak selamanya kita melakukan hal-hal yang kita suka, seringkali kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai karena kita melakukan kehendakNya. Kita sering berdoa meminta Tuhan untuk melakukan hal-hal yang kita kehendaki, tetapi seharusnya kitalah yang harus mengikuti kehendak Tuhan dan bukan Tuhan yang mengikuti kehendak kita.

2.G. Motivasi kita dalam melayani Tuhan adalah karena kita mengasihi Dia dan bukan karena kita perlu Tuhan untuk menolong kita. Kita harus pastikan bahwa kita memang melayani Dia karena kita mengasihi Dia.

2.H. Jangan menyerah di masa sulit. Saat Musa dan Bangsa Israel tiba di Laut Merah, di situlah mereka diuji. Tuhan berkata untuk jalan terus dan jangan menyerah. Pada saat kita menyerah, maka kita tidak akan mendapat apa-apa. Seperti dikatakan dalam Amsal 24 : 10 Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”



Bagian 3: Diskusi Kelompok.


1. Jelaskan kembali mengapa kebanyakan orang tidak mau memikul tanggung jawab dari Tuhan.


2. Jelaskan mengapa kita cenderung tidak mau terima hal yang sulit, meskipun kita sudah memahami firman Tuhan?