Program Harvest International Curriculum

Trimester 3

Dipimpin oleh Roh Kudus Sesi 5 dari 5


Topik : Perangkap dan Bahaya Saat Mencari Kehendak Allah



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan

1 Tesalonika 5 : 19-21 “Janganlah padamkan Roh, 20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. 21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”


1 Korintus 14 : 3-5 “Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. 4 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. 5 Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”



Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Sesi ini akan memberikan panduan praktis yang akan menolong kita membuat keputusan-keputusan yang bijaksana sesuai kehendak Allah. Berhati-hatilah agar kita jangan tertipu dengan membuat keputusan-keputusan hidup berdasarkan bukti-bukti fisik saja, atau membuat keputusan semata-mata berdasarkan pendapat populer. Berikut adalah teks Alkitab yang akan dibahas dalam sesi ini:

Kisah Para Rasul 27 : 9-15 “Sementara itu sudah banyak waktu yang hilang. Waktu puasa sudah lampau dan sudah berbahaya untuk melanjutkan pelayaran. Sebab itu Paulus memperingatkan mereka, katanya: 10 "Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita." 11 Tetapi perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda dari pada kepada perkataan Paulus. 12 Karena pelabuhan itu tidak baik untuk tinggal di situ selama musim dingin, maka kebanyakan dari mereka lebih setuju untuk berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks untuk tinggal di situ selama musim dingin. Kota Feniks adalah sebuah pelabuhan pulau Kreta, yang terbuka ke arah barat daya dan ke arah barat laut. 13 Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka, bahwa maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar dekat sekali menyusur pantai Kreta. 14 Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin "Timur Laut". 15 Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing.”


1. Persepsi dari Roh Kudus.

Akhir kisah dari teks Alkitab adalah kapal yang ditumpangi Paulus akhirnya karam dan mereka harus berenang menyelamatkan diri mereka ke daratan pulau Malta. Hal yang menarik dari kisah di atas bisa kita dapati di ayat ke 10 di mana Rasul Paulus sudah menduga bahwa pelayaran mereka akan mengalami kesukaran besar. Dugaan Paulus ini berasal dari persepsi yang datang dari Roh Kudus. Tetapi pada saat itu apa yang Roh Kudus katakan kepada Paulus bertentangan dengan keadaan sekitar:

1.A. Para ahli, yaitu para jurumudi dan nakhoda menentang Paulus (ayat 11).

1.B. Mayoritas orang-orang lebih setuju untuk pergi berlayar dan menentang Paulus (ayat 12).

1.C. Situasi angin pada saat itu keadaannya sangat baik bertentangan dengan perkataan Paulus (ayat 13).

Di sini Alkitab mengajar kepada kita bahwa para ahli, mayoritas orang, atau situasi keadaan tidak selalu benar. Kita harus lebih belajar untuk mendengarkan suara Roh Kudus. Pastor Bayless bersaksi ada seorang sahabatnya yang menggembalakan suatu gereja yang bertumbuh begitu pesat sehingga mereka membutuhkan gedung yang lebih besar. Tiba-tiba ada suatu gedung yang tersedia untuk mereka sewa. Ini seperti ada angin sepoi-sepoi yang bertiup menandakan pelayaran Paulus akan lancar. Pada saat itu para ahli di sekitar si gembala mendorongnya untuk menyewa gedung itu. Mayoritas orang-orang disekitarnya juga mendukung untuk menyewa gedung itu. Lalu si gembala segera menanda-tangani surat untuk menyewa gedung tanpa membaca kontraknya dengan seksama. Tindakan ini terbukti berakhir menjadi suatu mimpi buruk. Rupanya ada suatu kendala teknis yang terjadi sehingga gereja tidak dapat menggunakan gedung tersebut selama 5 tahun berturut-turut, walaupun biaya sewanya telah dilunasi. Dalam tekanan besar ini si gembala menjadi tertekan, sakit, dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Ini semuanya terjadi karena si gembala tidak berupaya untuk mendengarkan tuntunan yang diberikan oleh Roh Kudus. Para ahli, pendapat orang banyak, dan situasi keadaan semuanya ini bisa saja menipu kita.


2. Meminta Konfirmasi Tanda-Tanda Fisik untuk Menentukan Kehendak Allah.

Di kitab Hakim-Hakim pasal 6 Allah memanggil Gideon untuk memimpin bangsa Israel dan menyelamatkannya dari cengkeraman orang Midian. Lalu Gideon meminta konfirmasi dengan cara membentangkan guntingan bulu domba, di mana bila ada embun di atas bulu domba sedangkan sekelilingnya kering, maka ini berarti Allah benar-benar mengutus Gideon. Keesokan harinya bulu domba itu penuh dengan embun hingga bisa diperas. Tetapi kemudian Gideon meminta konfirmasi sekali lagi. Gideon membentangkan lagi guntingan bulu domba, dan Gideon mengatakan bila bulu domba itu esok kering sedangkan tanah sekelilingnya berembun maka itu berarti Allah benar-benar mengutusnya. Keesokan harinya terjadilah demikian. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita sebagai orang Kristen perlu meminta konfirmasi dari Tuhan sebagaimana Gideon?

2.A. Gideon bukanlah orang Kristen. Gideon tidak memiliki terang Allah di dalam hatinya sebagaimana kita sebagai anak-anak Allah sudah memilikinya. Gideon tidak hidup dalam era Perjanjian Baru seperti kita sekarang. Pada jaman itu, Gideon ada di tengah-tengah generasi bangsa Israel yang sedang mengalami kemerosotan iman dan moral. Generasi itu terjebak dalam kehidupan penyembahan berhala.

2.B. Orang Kristen memiliki terang Allah di dalam hati mereka. Kita hidup di dalam Perjanjian Baru dan Roh Allah diam di dalam kita. Kita memiliki akses kepada Firman Allah dan Roh Kudus. Bila kita masih meminta konfirmasi tanda-tanda fisik seperti Gideon, kemungkinan besar kita akan menemui masalah. Satu-satunya kisah yang mirip dengan Gideon dalam meminta konfirmasi tanda-tanda fisik bisa ditemui di Kisah Para Rasul pasal 1 saat para Rasul berupaya memilih pengganti Yudas Iskariot dengan membuang undi. Tetapi sesudah kejadian itu, di pasal 2 Roh Kudus turun atas mereka dan tinggal di dalam mereka. Setelah Roh Kudus turun, tidak pernah lagi didapati para Rasul mencari tanda-tanda fisik dari Allah. Dengan demikian, kita sebagai orang Kristen tidak seharusnya meminta suatu konfirmasi tanda-tanda fisik saat memutuskan panggilan Tuhan untuk melayani, saat mau membeli sesuatu, saat mau menikahi seseorang, saat mau mengangkat seseorang menjadi panatua, dan lain sebagainya. Dalam kesaksiannya, Pastor Bayless pernah mau menyewa sebuah apartemen dari seorang ibu pemilik apartement. Si ibu meminta waktu untuk membuat keputusannya, dan selang beberapa lama si ibu memutuskan untuk menolak Pastor Bayless menyewa apartemen tersebut. Rupanya yang dilakukan si ibu ini adalah meminta konfirmasi dari Tuhan. Si ibu berkata kepada Tuhan, bila telponnya berdering tiga kali sebelum jam 3 sore, maka pastilah ini kehendak Tuhan untuk menyewakan apartemennya. Saat telpon tidak berdering si ibu lalu meyakini Tuhan tidak mau menyewakan apartemennya itu kepada Pastor Bayless.

2.C. Potensi Tipuan Tanda-Tanda Fisik. Yosua 9 : 1-16 mengisahkan bagaimana para raja-raja di sebelah barat sungai Yordan menipu Yosua dan bangsa Israel untuk mengikat suatu perjanjian persahabatan. Mereka datang menjumpai Yosua dengan berpakaian buruk dengan bekal roti yang kering untuk dipersembahkan. Mereka mengaku bahwa mereka datang dari negeri yang sangat jauh. Mereka berupaya untuk menipu Yosua dan bangsa Israel agar mereka nantinya tidak ditumpas dan dibunuh saat bangsa Israel menguasai Tanah Perjanjian. Yosua dan bangsa Israel lalu membuat perjanjian persahabatan itu, di mana bangsa Israel terikat sumpah untuk tidak membinasakan mereka. Padahal Allah telah memberikan mereka perintah untuk membinasakan semua raja-raja di daerah Tanah Perjanjian. Kesalahan dari Yosua dan bangsa Israel dijelaskan di Yosua 9 : 14 “Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.” Di sini Yosua dan bangsa Israel tertipu karena para raja yang datang kelihatannya sangat meyakinkan. Kita bisa pelajari di sini bahwa segala sesuatu bukti fisik atau yang kita lihat bisa menipu kita. Oleh sebab itu kita harus memiliki kepekaan akan Roh Kudus yang akan bersaksi ke dalam hati kita. Ini tidak berarti kita harus mencurigai segala sesuatu yang kita lihat, tetapi maksud ajaran ini adalah untuk mengejar kepekaan akan Roh Kudus. Bila kita merasa ada sesuatu yang tidak benar, hendaknya kita jangan tergesa-gesa ambil keputusan. Kita perlu mengambil waktu yang cukup untuk mendapatkan tuntunan dari Roh Kudus di hati kita.


3. Mencari Kehendak Allah.

3.A. Mencari kehendak Allah melalui nubuatan. Seringkali kita menerima nubuatan dari seseorang yang mengaku mendapatkannya dari Allah tentang apa yang harus kita kerjakan. Ada beberapa hal penting yang kita perlu perhatikan dalam menerima nubuatan Allah:

3.A.1.  Setiap nubuatan dari Roh Kudus tidak akan bertentangan dengan Firman Tuhan yang tertulis. Dengan kata lain, setiap nubuatan yang tidak sesuai Firman sudah pasti bukan berasal dari Allah.

3.A.2.  Karunia bernubuat di Perjanjian Baru itu tidak dimaksud untuk memberikan tuntunan hidup. Perjanjian Baru tidak pernah mengajarkan agar hidup kita dituntun oleh nubuatan saja. Firman Tuhan secara jelas mengajarkan tujuan dari karunia bernubuat di 1 Korintus 14 : 3-5 “Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. 4 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. 5 Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.” Dari ayat di atas kita dapatkan bahwa karunia bernubuat itu tujuannya adalah untuk membangun, menasihati, dan menghibur. Dalam konteks berjemaat, nubuatan itu dua kali ditekankan pada ayat ke 4 dan 5 bahwa tujuannya adalah untuk membangun jemaat, bukan untuk menuntun kehidupan seseorang kepada suatu tujuan tertentu.

3.A.3. Hidup tidak seharusnya dituntun oleh nubuatan. Kita harus waspada bila seseorang datang kepada kita memberikan nubuatan spesifik yang bertujuan untuk menuntun hidup kita. Ada orang-orang yang mendominasi hidup orang lain melalui nubuatan-nubuatan yang diklaim berasal dari Allah. Mereka bernubuat agar kita memberikan sesuatu, atau mendorong kita melaksanakan sesuatu. Bila nubuatan itu meneguhkan sesuatu yang Allah sudah perkatakan kepada kita sebelumnya, berarti nubuatan itu tujuannya membangun kita dan kita bisa terima nubuatan itu. Tetapi bila nubuatan itu adalah tentang sesuatu yang belum pernah ada di hati kita sebelumnya maka kita perlu mewaspadainya, artinya kita tidak perlu tergesa-gesa mematuhinya sebelum kita uji dengan seksama.

3.B. Kita tetap harus sambut nubuatan Allah yang membangun gerejaNya. 1 Tesalonika 5 : 19-21 “Janganlah padamkan Roh, 20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. 21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Sebelumnya kita sudah baca bahwa bahwa nubuatan bagi jemaat Tuhan itu ditujukan untuk membangun. Kita tidak boleh sepelekan setiap nubuatan Tuhan. Tetapi setiap nubuatan itu tetaplah diuji terlebih dahulu karena Firman Tuhan sendiri yang memerintahkannya. Ini kita lakukan karena kita bisa saja melakukan kekeliruan dalam bernubuat atau dalam menerima nubuatan. Cara menguji terbaik adalah membandingkan nubuatan tersebut apakah sesuai dengan Firman Tuhan. Kita juga dapat mengujinya dengan kesaksian Roh Kudus yang ada di dalam hati kita.

3.C. Cara Allah menuntun dalam Perjanjian Baru. Di Perjanjian Baru, selain dengan Firmannya, Allah menuntun kita antara lain bisa melalui mimpi, penglihatan, atau suara Roh Kudus. Allah berbicara kepada Yusuf melalui mimpi untuk membawa Maria dan Yesus ke Mesir untuk menghindari Herodes, dan berbicara lagi melalui mimpi agar mereka kembali ke Yerusalem. Petrus menerima penglihatan dari Tuhan di Kisah Para Rasul pasal 10 untuk menginjil kepada keluarga Kornelius. Di pasal 16 kita bisa baca bagaimana Rasul Paulus menerima penglihatan untuk pergi ke Makedonia. Di Kisah Para Rasul pasal 8 kita membaca bagaimana Filipus mendengarkan suara Roh Kudus yang menyuruhnya untuk pergi mendekati kereta yang ditumpangi seorang sida-sida dari Etiopia. Allah bisa memimpin kita dengan banyak metode yang dipilih olehNya sendiri. Sebaiknya jangan kita yang menetapkan metode bagaimana Allah seharusnya berbicara kepada kita. Kita selalu memiliki Firman Tuhan dan Roh Kudus yang sanggup menuntun kehidupan kita. Allah juga memimpin kita dengan damai sejahteraNya. Kunci dari tuntunan dari Allah adalah pertama-tama kita harus rajin membaca Firman Allah. Kedua, kita harus membangun suatu hubungan pribadi yang intim yang dijalin antara kita dengan Tuhan. Dari situlah kita bisa mulai mengenali suara dari Roh Kudus.



Bagian 3: Diskusi kelompok

1. Berdasarkan apa yang anda pelajari di atas, apa pendapat anda sekarang bagi orang Kristen yang masih mencari tanda-tanda fisik sebagai konfirmasi kehendak Allah?


2. Menurut anda, bagaimana sekarang cara anda menguji bilamana anda mendengar suatu suara atau tuntunan Allah dalam hati anda?