Program Harvest International Curriculum

Trimester 3

Integritas Kepemimpinan Sesi 2 dari 2


Topik Sesi 2 : Ketulusan Pemimpin



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan

Matius 18 : 21 “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”


1 Korintus 13 : 4-7 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”



Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Di dalam sesi pertama kita, kita belajar tentang hati yang tulus. Kita telah bicarakan bagaimana hati dapat disempurnakan bagi Allah. Hati juga bisa tertipu sedikit demi sedikit sampai suatu tragedi bisa terjadi. Memelihara ketulusan hati berarti menolak setiap serangan yang ditujukan kepada hati kita. Serangan yang menyusup sedikit demi sedikit itu bagaikan sebuah kekuatan yang menyerang dan merebut tanah suatu bangsa. Pada sesi ini kita akan belajar mengenai masalah lainnya tentang ketulusan hati, sesuatu yang berhubungan dengan memiliki roh yang mengampuni.

Ide utama dari pengampunan adalah melepaskan. Ketika kita diampuni oleh Tuhan, dosa-dosa kita dilepaskan olehNya. Kita dilepaskan dari ikatan maut yang kekal. Memiliki roh pengampunan berarti hati dan tangan kita terbuka dalam sikap bebas kepada Allah dan orang lain. Tangan kita tidak terbebani membawa masalah-masalah amarah dan kepahitan. Beban-beban ini bagi kita seperti layaknya orang yang membawa tas berat yang tidak dibutuhkan untuk suatu perjalanan. Setiap pemimpin harus memiliki roh pengampunan yang mendominasi hatinya, supaya pelayanannya tidak terikat pada ketidak-pengampunan.


1. Kebenaran Tentang Pengampunan.

Matius 18 : 21-35 “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? 22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

1.A. Petrus mengajukan sebuah pertanyaan yang jujur. Saat Petrus bertanya tentang pengampunan hingga tujuh kali sesungguhnya Petrus sedang menyatakan suatu kemurahan yang jauh melebihi apa yang ia selama itu ketahui. Pada waktu itu para Rabi mengajar bahwa Allah sendiri hanya memaafkan sebanyak tiga kali saja. Di Kitab Amos pasal 1 dan 2 beberapa kali ditulis “Karena tiga perbuatan jahat, bahkan empat…” Maksudnya adalah bila kita sudah bersalah melewati hitungan ketiga, maka pada hitungan ke-empat hukuman pasti tiba. Petrus percaya itulah jumlah pengampunan Allah yang berlaku. Tetapi sekarang Petrus sedang berhadapan dengan Yesus, yang adalah Allah itu sendiri. Petrus merasa ia telah belajar banyak tentang kasih karunia dari Yesus, sehingga ia memilih untuk mengatakan pengampunan dalam jumlah tujuh kali. Petrus mungkin merasa ia sudah memahami hal pengampunan ini. Akan tetapi Yesus kemudian berkata kepada Petrus bahwa mengampuni itu harus tujuh puluh kali tujuh kali. Tentunya di sini Yesus tidak bermaksud pengampunan itu harus berjumlah 490 kali, tetapi pengampunan itu harusnya tidak terhitung. 1 Korintus 13 : 5b berkata bahwa kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain, dengan kata lain kasih itu tidak menghitung berapa kali seseorang itu bersalah.

1.B. Dimensi baru tentang pengampunan dalam Kerajaan Allah. Yesus mengajarkan pengampunan ini dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Dalam Kerajaan Allah biasanya ada dua kebenaran yang penting:

1.B.1. Setiap orang percaya harus hidup dalam batasan-batasan lingkungan Kerajaan Allah. Kita dipanggil ke dalam Kerajaan Allah, suatu lingkungan tempat kita berada setelah kita ditebus. Kita tidak bisa masuk ke dalam lingkungan Kerajaan Allah ini atas kehendak atau kemampuan kita sendiri. Kita masuk ke dalam Kerajaan Allah hanya karena kita sudah dilahirkan kembali oleh Roh Allah. Dunia tidak bisa memahami lingkungan Kerajaan Allah, tetapi sebagai orang percaya sekarang kita wajib hidup dalam batasan-batasan lingkungan Kerajaan Allah.

1.B.2. Dalam Kerajaan Allah ada perintah yang harus dipatuhi. Setiap perintah di Kerajaan Allah yang tidak dipatuhi dan tidak diresponi dengan benar akan mendatangkan konsekuensi. Ini kita bisa pelajari lagi di Matius 18 : 34-35 yang berkata “Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." Di ayat di atas, saat tuannya itu menyerahkan hambanya yang tidak mengampuni kepada para algojo, itu berarti si hamba tersebut tidak hidup dalam pemulihannya lagi. Ayat ini juga lalu dipertegas oleh Yesus bahwa Bapa di sorga juga akan berbuat demikian.

1.C. Kita seharusnya sudah kehilangan segala-galanya. Hidup kita sebelum Yesus mengarah pada kebinasaan kekal di neraka. Pada perumpamaan Yesus di atas, si hamba yang berhutang seharusnya memiliki hidup yang penuh kesengsaraan. Karena hutang-hutangnya, si hamba ini seharusnya kehilangan segala hartanya, termasuk anak dan isterinya. Hidupnya mengalami kehancuran total, dan dia sendiri akan dijual sebagai seorang budak. Setiap harinya hidup si hamba ini pasti dipenuhi dengan tekanan dan beban yang berat. Tetapi karena kemurahan raja, maka nasib si hamba yang berhutang ini berubah total. Sekarang ia bisa tetap memiliki istri dan anaknya, dan bahkan ia tidak lagi akan dijual sebagai seorang budak. Demikian juga dengan kita, karena Yesus telah mati di kayu salib maka semua hutang dosa-dosa kita telah dibayarkan lunas. Kita sekarang sudah bebas, dan dengan pengampunan itu kita berada di dalam Kerajaan Allah. Sekarang kita akan hidup selama-lamanya.

1.D. Kita bisa saja melupakan kemurahan Tuhan. Kita memang telah diampuni dan telah mengerti tentang kehidupan dalam keselamatan. Tetapi bisa saja kita melupakan besarnya pengampunan yang telah anugerahkan kepada kita, yakni saat kita sendiri masih hidup dalam ketidak-pengampunan. Bila ini terjadi maka kita bisa saja tidak akan kehilangan keselamatan kita. Dalam perumpamaan Yesus, si hamba yang tidak mengampuni itu tetap bisa memiliki istri dan anaknya. Tetapi kehidupan dia akan terus menerus dihantui oleh para algojo-algojo yang meresahkan dia sampai dia melunaskan seluruh hutangnya. Sama juga dengan kita, bila kita memiliki sikap yang tidak mengampuni maka akan ada roh-roh yang datang menguasai dan meresahkan kehidupan kita. Roh-roh ini akan mengambil sukacita kita, dan bahkan kesehatan fisik kita hingga kita bisa jatuh sakit. Studi medis membuktikan bahwa 70% dari sakit penyakit manusia itu disebabkan oleh kepahitan, kebencian, dan ketidak pengampunan. Allah tidak menciptakan kita untuk membawa beban-beban ini. Hidup dalam tekanan ini bukanlah kehendak Allah karena Allah berkehendak untuk membebaskan kita sepenuhnya.

1.E. Yesus datang mengajarkan prinsip pengampunan yang benar. Pada saat kita bertobat maka Yesus berkata kita telah diampuni dan dibebaskan. Si hamba dalam perumpamaan Yesus itu adalah gambar diri kita yang memerlukan pengampunan dari Tuhan. Kita memiliki hutang yang tidak mungkin kita lunasi. Si hamba tersebut dikatakan memiliki hutang sebanyak 10.000 talenta. Dalam mata uang sekarang itu setara dengan 150 milyar rupiah. Si hamba ini bahkan tidak akan sanggup membayar bunga hutangnya saja. Si hamba lalu memohon tuannya untuk bersabar. Tapi sang tuan sudah tahu meskipun ia bersabar si hamba tetap saja tidak akan memiliki cukup waktu untuk bekerja demi melunaskan hutang-hutangnya. Akhirnya tuannya itu berkeputusan untuk melakukan lebih dari sekedar bersabar. Si tuan itu memutuskan untuk menghapuskan saja seluruh hutang-hutangnya. Dengan cara yang sama Tuhan juga telah mengampuni kita karena Dia tahu kita tidak pernah akan bisa membayar semua dosa-dosa dan kesalahan kita.

1.F. Si hamba tidak bersedia mengampuni orang lain. Si hamba yang baru saja menerima pengampunan atas 150 milyar rupiah sekarang menagih hutangnya kawannya yang sejumlah seratus dinar, yang setara dengan 3 bulan gaji atau sekitar 10 juta rupiah. Ini adalah jumlah yang relatif jauh lebih kecil, dan bila ditunggu dengan sabar bisa saja dilunasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tetapi si hamba malah menangkap dan mencekik kawannya. Saat kawannya memohon kesabaran si hamba, seharusnya si hamba mengingat bagaimana ia juga telah memohon kesabaran tuannya yang dihutangi. Kawannya ini memohon kesabaran dalam waktu yang masih masuk di akal, mengingat jumlah hutangnya tidak terlalu besar. Tetapi si hamba menolaknya dan bahkan memenjarakan kawannya ini. Yesus sedang mengajarkan kepada kita tentang roh pengampunan. Memiliki roh pengampunan mutlak harus memilki penguasaan diri.


2. Bagaimana Ketidak-Pengampunan Masuk ke dalam Hati Seorang Pemimpin.
Seringkali kita pikir ketidak-pengampunan itu erat hubungannya dengan seseorang yang datang dan menyerang kita. Memang benar bahwa banyak dari kita yang mungkin telah mengalami hal itu. Tetapi ada sumber-sumber lain di mana ketidak-pengampunan itu bisa mengintai di dalam hati kita. Berikut adalah beberapa contohnya:

2.A. Saat seorang pemimpin mengkritik orang lain. Saat mengkritik orang lain kita sedang menunjukkan cela mereka, karena mereka tidak memenuhi citarasa kita. Kita menuntut kesempurnaan orang lain dan tidak mau mengampuni kekurangan mereka.

2.B. Saat seorang pemimpin menghakimi orang lain. Ini terjadi bila kita menganggap pendapat orang lain itu salah, dan pendapat kita yang benar. Salah satu contohnya ini terjadi saat kita tidak setuju dengan gaya pelayanan seseorang. Saat menghakimi orang lain kita tidak akan mengubah pendirian kita. Kita menempatkan kendali atas orang lain dengan memenjarakan mereka pada pendapat kita sendiri.

2.C. Saat seorang pemimpin iri hati. Iri hati mendorong hati kita untuk tidak mengampuni karena orang lain memiliki sesuatu yang lebih dari yang kita miliki.

2.D. Saat seorang pemimpin membenci orang lain. Saat membenci orang lain, kita mencoba mengendalikan sikap kita pada orang lain. Kita akan memenjarakan orang itu dalam amarah kita.

Ketidak-pengampunan dari pemimpin gereja akan melumpuhkan pelayanan gereja yang hidup. Hal ini membangun tembok-tembok pemisah di antara Tubuh Kristus. Pada saat kita memenjarakan seseorang dalam opini kita, kita serta merta sedang membangun tembok pemisah tersebut. Ketidak-pengampunan juga akan menghasilkan ketegangan-ketegangan antara gereja. Sesungguhnya Yesus telah banyak mengajar kita untuk saling mengampuni. Ia telah mengampuni semua dosa-dosa kita. Yesus selalu sangat pengertian dan lemah lembut kepada kita. Yesus bahkan sangat memahami kekurangan dan kelemahan kita, Ia sabar akan ketidak-sempurnaan kita. Yesus meminta pengampunan Bapa pada orang-orang yang menyalibkan Dia, karena mereka tidak tahu apa yang mereka sedang lakukan. Demikianlah juga kita harus bersabar kepada orang-orang yang jauh dari sempurna. Kita harus mengampuni mereka karena mereka belum tentu memahami apa yang mereka sedang lakukan. Pengampunan ini adalah satu-satunya cara kita berinteraksi dan berfungsi di dalam Kerajaan Allah. Bila kita menggunakan cara yang lain maka Tuhan akan marah kepada kita, dan kita sedang mendatangkan hukuman kepada diri kita sendiri.

Dalam kesaksiannya, Doktor Jack Hayford pernah menyimpan amarah kepada seorang hamba Tuhan lain. Ia tidak menyetujui cara-cara pelayanan si hamba Tuhan tersebut. Ia juga tidak menyukai cara si hamba Tuhan tersebut berbicara. Tetapi Doktor Jack Hayford tidak pernah berbagi hal ini kepada siapapun, karena ia merasa terlalu bijaksana untuk tidak membicarakannya. Hatinya selalu dongkol setiap kali ia mendengar atau melihat hamba Tuhan dimaksud, padahal si hamba Tuhan tersebut tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa terhadapnya. Suatu hari saat ia pulang ke rumah rupanya TV sedang dalam keadaan menyala menayangkan si hamba Tuhan tersebut. Lalu ia bergegas hendak mematikan TV itu. Tetapi sebelum ia sampai pada TV, ia tersungkur karena ada suara Roh Kudus yang menegurnya dan berkata “engkau tidak menyetujui cara Aku menciptakan hamba Tuhan itu.” Pada saat itu ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia melihat roh keji yang selama ini menguasai dan memotivasi sikapnya. Roh ini sama dengan roh si Lucifer, yang berkata ia ingin sama seperti Tuhan, dan ia mau menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya saja. Lalu Roh Kudus bertanya kepada Doktor Jack Hayford: “Apakah engkau mau menciptakan segala sesuatu menurut kehendakmu saja, atau apakah engkau puas dengan cara Aku menciptakannya?” Lalu ia menangis dan mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Tuhan dalam pertobatan. Selang beberapa lama kemudian hamba Tuhan tersebut sekarang telah menjadi sahabat terdekat dari Doktor Jack Hayford.


Penutup
Beberapa tahun yang lalu Doktor Jack Hayford memiliki seorang kakak ipar yang telah meninggalkan imannya. Ia selalu berusaha untuk mendekati kakak iparnya ini selama bertahun-tahun, tetapi selalu mendapatkan respon yang dingin sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti mencoba sama sekali. Lima belas tahun kemudian ia menemukan sebuah kartu, yang dikirim oleh anak si kakak ipar kepada anaknya sendiri. Di kartunya itu anak si kakak ipar mengucapkan terima kasih pada anak dari Doktor Jack Hayford karena telah terus mendoakan ayahnya untuk kembali kepada Yesus. Pada saat itu ia merasa tertikam, karena ia sadar ia sudah tidak lagi mendoakan kakak iparnya, sesuatu yang anaknya telah terus lakukan selama ini. Ia bahkan telah lupa sama sekali untuk mendoakan kakak iparnya. Ini adalah suatu kegagalan rohani, karena Yesus mengajar untuk mengasihi dan mendoakan musuh-musuh kita. Doktor Jack Hayford lalu bertobat di hadapan Tuhan. Empat bulan kemudian ia menerima telpon dari kakak iparnya. Kakak iparnya memberi kabar bahwa pada hari itu ia memutuskan untuk kembali kepada Yesus dan ia mau Doktor Jack Hayford menjadi yang pertama untuk mendengar kabar ini.



Bagian 3: Diskusi Kelompok

1. Bagian mana yang paling berkesan pada anda tentang perumpamaan Yesus tentang hamba yang tidak mau mengampuni?


2. Apakah anda pernah mengkritik, menghakimi, iri hati, atau membenci orang lain? Bagaimana caranya anda menerapkan pengampunan kepada orang itu?