Program Harvest International Curriculum

Trimester 3

Integritas Kepemimpinan Sesi 1 dari 2



Topik Sesi 1: Integritas Seorang Pemimpin.


Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

Mazmur 25 : 21 “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.”


Efesus 4 : 30 “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”


Keluaran 28 : 30 “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN.”


Nehemia 7 : 65 “Dan tentang mereka diputuskan oleh kepala daerah, bahwa mereka tidak boleh makan dari persembahan maha kudus, sampai ada seorang imam bertindak dengan memegang Urim dan Tumim.”



Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Mata kuliah ini diajarkan oleh Doktor Jack Hayford. Ia mengalami mujizat kesembuhan saat ia masih bayi, dan juga saat ia mengidap polio di usia sangat muda. Mujizat tersebut mendorong keyakinannya bahwa Roh Kudus itu sungguh-sunggu hidup dan aktif bekerja di gereja Tuhan. Ia melayani sebagai konselor dari The Kings University yang ia dirikan sejak tahun 1997. Dari 2004-2009 ia menjabat sebagai presiden dari The International Church of the Foursquare Gospel. Beliau juga adalah pendiri dan senior pastor dari The Church On The Way di Van Nuys, California. Ia telah mempublikasikan lebih dari 50 buku-buku, mengkomposisi 500 himne dan lagu-lagu rohani.


1. Kriteria Seorang Pemimpin.

Ada banyak kriteria yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin yang baik:

1.A. Memiliki keahlian atau kreatifitas khusus.

1.B. Memiliki pengertian intelektual yang baik.

1.C. Memiliki kemampuan manajemen.

1.D. Memiliki visi profetik.

1.E. Memiliki kepribadian dinamis.

1.F. Memiliki kerohanian yang menyala-nyala.

1.G. Memiliki karunia-karunia supernatural.

Tidak ada seorangpun dari kita yang memiliki semua kriteria tersebut. Tetapi setiap kita pasti memiliki salah satu atau bahkan beberapa kriteria tersebut di atas. Kriteria tersebut di atas adalah kriteria yang bisa dilihat atau dikenali. Tetapi masih ada satu kriteria lagi, dan kriteria ini tidak dapat dilihat langsung. Kriteria kepemimpinan ini adalah kriteria integritas atau ketulusan hati.


2. Integritas dalam Alkitab.

Kejadian 20 : 1-6 “Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing. Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: ‘Dia saudaraku,’ maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: ‘Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.’ Adapun Abimelekh belum menghampiri Sara. Berkatalah ia: ‘Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tak bersalah? Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.’ Lalu berfirmanlah Allah kepadanya dalam mimpi: ‘Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka Akupun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia.’” Ayat-ayat ini adalah kisah pertama dalam Alkitab yang mengajarkan tentang integritas atau ketulusan hati. Meskipun kata-kata hati yang tulus tidak banyak muncul di Alkitab, tetapi ide dari integritas atau ketulusan hati dipergunakan secara konsisten dan terus menerus dalam Alkitab. Kata-kata lain yang digunakan dalam Alkitab yang serupa dengan integritas adalah: kebenaran, kejujuran, ketenangan. Ada empat hal yang menjadi unsur integritas atau ketulusan hati:

2.A. Kejujuran dari lidah.

2.B. Kebenaran dalam pikiran.

2.C. Kejujuran pada diri sendiri.

2.D. Hati yang tidak melanggar kepercayaan.


3. Tokoh Alkitab yang Memiliki Integritas.

Abimelekh adalah salah satu tokoh Alkitab yang memiliki integritas. Ia sebenarnya adalah seorang raja yang tidak mengenal Allah, tetapi ia meresponi integritas dengan benar. Dalam Kejadian 20 : 1-6, diceritakan bahwa Abimelekh mengambil Sara sebagai gundiknya. Menurut pengertian atau standar Abimelekh, ia tidak melakukan hal yang melanggar integritas, karena Abimelekh tidak tahu bahwa Sara sudah bersuami. Dan pada malam hari, Allah memperingatkan Abimelekh atas ketidak-tahuannya itu. Dalam hal ini, kita belajar 3 hal tentang integritas:

3.A. Bila kita melakukan tindakan yang tidak benar yang secara jujur kita belum ketahui atau mengerti, maka Allah akan memperingatkan atau mengkoreksi kita.

3.B. Bila kita masih melakukan kesalahan padahal kita sudah berusaha melakukan kebenaran sesuai FirmanNya, maka Allah dengan kasihNya yang besar tetap akan mengampuni dan mengkoreksi kita.

3.C. Tetapi bila kita sengaja melanggar hal-hal yang kita sudah mengerti kebenarannya, Allah tidak akan datang dan mengkoreksi kita.

Doktor Jack Hayford memberikan kesaksian, dalam pelayanannya ia sering berhadapan dengan pemimpin-pemimpin yang jatuh dalam dosa, yang kemudian mengundurkan diri dari pelayanan. Para pemimpin tersebut seringkali menyalahgunakan keuangan gereja, terperosok dalam doktrin yang salah, dan bahkan hidup dalam kenajisan. Masalahnya banyak dari mereka tidak merasa berdosa dalam melakukan kejahatan-kejahatan tersebut. Firman Tuhan sangat jelas mengajarkan kebenaran. Tetapi banyak dari mereka lebih suka mencari pembenaran diri. Bagaimana para pemimpin tersebut bisa jatuh dalam dosa dan tetap merasa benar? Hal ini disebabkan oleh hati mereka yang telah melanggar prinsip-prinsip integritas.


4. Kunci dari Prinsip Integritas.

Kunci dari prinsip integritas ini adalah meresponi suara Tuhan dengan segera. Apabila Tuhan menegur dan mengkoreksi kita, kita wajib untuk segera meresponinya. Mazmur 25 : 20-21 “Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu. Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.” Doktor Jack Hayford bersaksi, pada saat beliau sedang mengendarai mobil menuju ke suatu konferensi, Tuhan berbicara kepada beliau. Tuhan berkata, ”Bicaralah tentang integritas kepada jemaat di konferensi tersebut.” Saat itu sebenarnya ia tidak mempersiapkan khotbah tentang integritas. Tetapi ia langsung meresponi suara Tuhan dengan mempersiapkan khotbah tersebut. Saat ia mempersiapkan khotbahnya, ia lalu menemukan arti dari kata integritas dalam Alkitab adalah sesuatu yang “utuh” atau “komplit” yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani “thom.” Banyak orang berpikir integritas itu adalah kejujuran atau kesetiaan dalam mengatur keuangan. Tetapi kata integritas lebih tepat diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebenaran yang utuh, dengan keterbukaan yang sepenuhnya di hadapan sesama, dan  juga di hadapan Tuhan. Prinsip-prinsip integritas ini berhubungan dengan:

4.A. Hati yang utuh. Bila kita memiliki keutuhan hati, maka kita tidak akan mengijinkan adanya pelanggaran  sekecil apapun ada dalam hati kita. Pelanggaran kecil yang dibiarkan akhirnya bisa terakumulasi menjadi hal besar, yang bisa membuat kita jatuh. Agar kita menyadari pelanggaran-pelanggaran kecil maka kita perlu melindungi diri dengan terus-menerus mendengarkan suara Tuhan. Daud berkata dalam Mazmur 25 : 21 “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.” Latar belakang ayat ini menceritakan saat Daud menjadi raja Israel, di mana daerah kekuasaannya begitu luas dan ia tidak memiliki cukup tentara untuk melindunginya dari serangan musuh. Perhatikan kata “menantikan Engkau” dalam ayat tersebut. Seseorang yang menantikan Tuhan adalah seseorang yang siap sedia, seperti seorang pelayan di restoran yang mata dan telinganya selalu tertuju kepada tamu-tamu yang dilayani. Sama halnya dengan kita, apabila kita memiliki integritas, berarti kita harus selalu siap mendengar bisikan dan koreksi dari Roh Kudus terus menerus. Mata kita juga harus tertuju hanya kepada Tuhan, sehingga kita bisa mengetahui setiap koreksi dari Tuhan.

4.B. Ketaatan. Doktor Jack Hayford bersaksi, saat beliau baru saja memulai pelayanannya di gereja, beliau mendapat tugas untuk membeli perlengkapan gereja. Ada dua pemasok yang beliau hubungi. Pemasok pertama memberikan harga sedikit lebih mahal, tetapi disertai hadiah sebagai komisi untuk Doktor Jack Hayford. Sedangkan supplier kedua, harganya lebih murah tetapi tidak ada hadiahnya. Akhirnya beliau memutuskan untuk membeli dari pemasok pertama karena menurut pandangan beliau, menerima hadiah itu bukanlah suatu dosa. Tetapi Roh Kudus menegur beliau bahwa hadiah tersebut adalah sogokan dari si penjual, karena ini berarti gereja harus mengeluarkan uang lebih banyak dari yang seharusnya. Beliau sempat berargumentasi dengan Roh Kudus, tetapi Roh Kudus hanya diam. Saat Roh Kudus mengkoreksi kita, Roh Kudus tidak akan berargumentasi dengan kita. Pada akhirnya beliau mengerti akan kesalahannya dan memberikan hadiah tersebut kepada orang yang membutuhkan. Ini kelihatannya hanyalah hal kecil saja tetapi ini adalah integritas. Integritas dipelihara dalam ketaatan kepada Roh Kudus.


5. Integritas yang dikorbankan oleh Raja Salomo.

Raja Salomo berdoa kepada Allah di 1 Raja-Raja 8 : 25 “Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup di hadapan-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku.”

Lalu Allah menjawab Salomo di 1 Raja-raja 9 : 3-5 “Firman TUHAN kepadanya: ‘Telah Kudengar doa dan permohonanmu yang kausampaikan ke hadapan-Ku; Aku telah menguduskan rumah yang kaudirikan ini untuk membuat nama-Ku tinggal di situ sampai selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa. Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud, ayahmu, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.’”

Allah memberikan syarat kepada Raja Salomo untuk tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturanNya. Tetapi dalam menjaga daerah kekuasannya Salomo kerap membuat perjanjian dengan kerajaan sekitarnya. Masalahnya, setiap kali Raja Salomo membuat perjanjian, ia juga mensahkannya dengan pernikahannya dengan banyak istri-istri kafir. Hal ini tidak dilakukan oleh Raja Salomo secara sekaligus. Ia memulainya dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Dan setiap wanita-wanita kafir yang ia nikahi membawa ilah-ilah mereka, sehingga jalan menuju Yerusalem akhirnya penuh dengan ilah-ilah asing. Pada akhirnya, bahkan ilah-ilah tersebut dibawa masuk ke dalam Bait Allah yang dibangun oleh Salomo. Dalam hal ini, integitas dikorbankan sedikit demi sedikit oleh Raja Salomo sampai akhirnya kerajaannya jatuh.


Penutup.

Kata integritas dalam Alkitab muncul dalam bentuk majemuk, yaitu kata Thummim. Thummim adalah sejenis batu permata yang diletakkan di atas penutup dada Imam Tinggi. Allah menggunakan Thummim untuk memberi jawaban atau keputusanNya kepada bangsa Israel kuno. Dengan Thummim ini Allah akan menunjukkan melalui si Imam Tinggi jalan mana yang harus ditempuh. Imam Tinggi akan masuk ke ruang kudus tepat di depan tirai ruang maha kudus dan menanyakan apa yang harus dilakukan oleh Bangsa Israel dan Tuhan akan menjawabnya lewat Thummim. Demikianlah kita harus membiarkan Thummim tinggal dalam hati kita sehingga kita bisa berjalan dalam jalan yang benar, sehingga pelayanan kita akan menjadi lebih efektif. Kita harus berdiri dengan integritas yang teguh.



Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Diskusikan kualitas apa saja yang biasanya kita cari untuk menentukan seorang pemimpin dalam pelayanan?


2. Bagaimanakah kualitas-kualitas handal ini berhubungan dengan integritas?